Loading...
X

Membaca Al Qur’an vs Mengeja Huruf-huruf Arab dalam Al Qur’an

Sumber: http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/setyaningrum-rahmawaty/membaca-al-quran-vs-mengeja-huruf-huruf-arab-dalam-al-quran/420161554054

Tulisan ini terinspirasi dari sebagian kecil perbincanganku dengan seorang teman bule non-muslim yang ingin mendalami Al Qur’an dan saat ini dia ingin ikut menyambut Ramadlon dengan melakukan apa yang biasa dilakukan kebanyakan muslim di bulan Ramadlon, tadarus Al-Qur’an. Sudah sejak seminggu yang lalu dia memulai niatnya membaca terjemahan Al Qur’an dalam Bahasa Inggris, dengan menghatamkan satu sampai dua surah setiap hari menjelang di pembaringannya di malam hari, dan saat ini dia sudah masuk surat ke-14.

Suatu hari dalam diskusi keIslaman mingguanku dengannya, kusampaikan pada dia bahwa apa yang sedang dia lakukan saat ini mungkin bisa dikatakan jarang dilakukan oleh kebanyakan muslim, khususnya mereka yang tidak mengenal bahasa Arab, atau dengan kata lain bahasa Arab bukanlah menjadi bahasa sehari-hari baginya. Lalu, temanku tersebut dengan agak tercengang berkomentar “lalu, apa yang mereka cari, kalau mereka tidak mengerti apa yang mereka baca?, sungguh konyol sekali orang membaca tapi tidak mengerti apa yang sedang dia baca?”. Komentar yang cukup singkat dan sederhana, yang jarang sekali aku dapatkan dari saudara-saudaraku sesama muslim baik di tanah air maupun di sini, dan tentunya tidak akan cukup bagiku menjelaskan padanya bahwa hanya untuk sekedar mendapatkan pahala dari Tuhanku. Sungguh akan terasa sangat bodoh sekali seorang muslim menurut pandangannya, jika setiap hari membaca Al Qur’an, bahkan di bulan Ramadlon mereka akan saling berlomba-lomba menghatamkan Al Qur’an, tanpa memahami apa yang sedang mereka baca. Walau kenyataannya memang demikian, hampir sebagian besar muslim yang aku tahu di sekitar tempat tinggalku, bahkan disini pun, ketika membaca Al Qur’an, hanya berorientasi pada pahala atau kebiasaan yang biasa dilakukannya sejak kecil, seperti membaca Al Qur’an ba’da maghrib, dengan suara yang agak dikeraskan sedikit.

Tentunya tidak akan salah seorang muslim berorientasi pada pahala ketika mengagungkan ayat-ayat Alloh dalam Al Qur’an, sebab memang Alloh sendiri telah menjanjikan pahala kebaikan-kebaikan bagi orang yang mau membaca Al Qur’an, bahkan bagi yang masih terbata-bata karena masih dalam taraf belajar membaca pun, Alloh berikan double rewards bagi mereka.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Dari Aisyah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

Namun, apakah hanya sebatas pahala yang diinginkan Alloh ketika memerintahkan membaca firman-firmanNya dalam Al Qur’an?. Okeylah, misalkan ada yang berpendapat bahwa hal ini dianggap tidak menjadi masalah, karena bahasa Arab bukanlah bahasa utama atau bahasa dalam kesehariannya, tapi berapa persenkah muslim tersebut setelah membaca Al Qur’an kemudian membaca artinya atau memahami makna ayat demi ayat yang baru saja dia baca? Silakan, kita merenungi diri kita masing-masing. Mungkin termasuk aku juga, yang terkadang hanya berorientasi khatam, tanpa memahami keseluruhan makna bacaannya.

Terus terang, komentar temanku tersebut membuatku berfikir dan merenung, bagaimana dahulu orang tuaku dan kebanyakan orang tua muslim di daerahku mengajarkan atau mengenalkan Al Qur’an pada putra-putrinya. Orang tuaku dan mungkin juga sebagian besar orang tua muslim di tanah airku lebih senang mengingatkan “sudah membaca Al Qur’an atau belum, tanpa menanyakan sudah mengerti arti ayat yang dibaca atau tidak”. Bahkan, ketika aku di bangku Madrasah pun, Ustadz dan Ustadzahku juga memperlakukan hal yang sama. Mungkin hingga saat ini pun, budaya membaca Al Qur’an tanpa memahami makna bacaannya menjadi hal yang biasa di kalangan muslim di daerahku, walau tidak aku katakan semua, tapi, mayoritas muslim cenderung melakukan hal demikian, membaca Al Qur’an tapi kurang memahami maknanya.

Lalu apa jadinya orang yang membaca tapi tidak mengerti apa yang sedang dia baca. Bisa di ibaratkan seorang anak kecil yang baru belajar membaca, dia akan mengenal huruf demi huruf dan bagaimana cara melafadzkan rangkaian huruf-huruf tersebut dalam suatu kata dan kalimat. Tetapi, jika kemudian dia ditanya apa arti kalimat yang sedang dia baca, dia akan menggelengkan kepalanya karena pemahamannya baru sebatas mengenal huruf dan cara mengucapkannya, bukan makna yang ada dalam kalimat tersebut. Apakah demikian pula ibaratnya, seorang yang membaca Al Qur’an, tetapi tidak mengenal makna atau maksud bacaannya?. Lalu apakah bisa dikatakan bahwa muslim seperti ini masih dalam taraf belajar mengenal dan mengeja huruf dalam Al Qur’an?

Ada hal yang perlu kita kaji kembali selama ini dalam mendefinisikan “membaca” Al Qur’an. Walau diakui, berbagai metode membaca Al Qur’an sudah banyak berkembang di tanah air kita, mulai dari IQRO’, Al Barqi, Tsaqifa, Quantum, dan masih banyak metode lain yang menawarkan cara cepat membaca Al Qur’an. Tapi, tidak seharusnyalah, ketika sudah bisa membaca Al Qur’an, kemudian berhenti membaca makna ayat-ayat yang terkandung di dalamnya. Bahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu, jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.

Membaca Al-Qur’an akan bermanfaat bagi pembacanya, yaitu ketika membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, baik perintah maupun larangannya. Ketika ia menjumpai ayat yang memerintahkan atau melarang sesuatu hal maka ia akan berusaha mematuhi segenap kemampuannya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Sungguh, Al-Qur’an akan menjadi hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur’an itu menjadi hujjah terhadap dirinya (mencelakainya). Sebagaimana firman Allah Ta ‘ala:

“lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (Shad: 29).

Lalu, apa sesungguhnya makna membaca Al Qur’an, yang terkadang banyak diantara sesama muslim menggunakan istilah qiro’ah, tilawah, maupun tadarus?

Berikut saya cuplikkan sebuah homepage dari Saudara muslim kita, yang insyaAlloh akan memberikan pencerahan bagi kita, juga diri saya pribadi akan hal tsb. (http://putrapurnama.wordpress.com/2009/02/17/qiro%E2%80%99ahtilawahtadarusdan-tadabbur/)

Makna qiro’ah – tilawah – tadarus – tadabur memiliki makna yang berbeda-beda aplikasinya dalam menyikapi Al Qur’an. Lantas apa perbedaannya? apa saja definisi-definisinya? Nah, mari kita tinjau sejenak bersama-sama.

Kata “tilawah” dengan berbagai derivasi dan variasi maknanya dalam Al-Qur’an terulang/disebutkan sebanyak 63 kali. Kata tilawah ini dalam beberapa kitab seperti dalam al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir, Al-Shahib Ibn ‘Ibad dalam al-Muhith fi al-Lughah, Ibnu Mandhur dalam Lisan al-‘Arab, dan dalam Mukhtar al-Shihah, secara leksial/harfiah mengandung makna “bukan sekedar” membaca (qiro’ah).

Hemat kata, tilawah dapat diartikan sebagai pembacaan yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca itu. Sedangkan qiro’ah dapat dimaknai sebagai aktifitas membaca secara kognitif atau kegiatan membaca secara umum, sementara tilawah adalah membaca sesuatu dengan sikap pengagungan. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an kata tilawah sering digunakan daripada kata qiro’ah dalam konteks tugas para Rasul ‘alaihimussalam.

Syaikh Ibnu Utsaimin dalam kitabnya Majalis Syahr Ramadlan menguraikan cakupan makna tilawah dalam dua macam :
Pertama – Tilawah hukmiyah, yaitu membenarkan segala informasi Al Qur’an dan menerapkan segala ketetapan hukumnya dengan cara menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Kedua – Tilawah lafdziyah, yaitu membacanya. Inilah yang keutamaannya diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits Bukhari: خَيرُكُم مَنْ تعَلَّمَ القُرآنَ وعَلَّمَه; sebaik-baiknya diantara kamu adalah yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.

Adapun kata tadarus berasal dari kata (darosa) yang berarti membaca (qiro’ah) atau berlatih dan selalu menjaga (الرياضة والتعهد للشيئ). Ketika ada imbuhan huruf ta’ dan alif pada kata darasa, maka maknanya berubah menjadi ‘saling membaca’. Dari sinilah kita kenal kata “tadarus” atau “mudarasah“. Sehingga dua kata ini dapat diartikan “membaca, menelaah, dan mendapatkan ilmu secara bersama-sama, di mana dalam prosesnya mereka sama-sama aktif”. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah s.w.t. di Ali ‘Imran:79مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُون; tidak wajar bagi manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

Sampai disini dapat dipahami bahwa, mudarasah atau tadarus merupakan sebuah proses atau mekanisme untuk melakukan tadabur Al Qur’an. Sedangkan kata “tadabbur” sendiri terdapat diantaranya dalam QS. An Nisaa’ ayat 82, secara leksikal/harfiah tadabbur mengandung beberapa filosofi makna, yakni: refleksi (reflection), meditasi (meditation), berfikir (thinking), pertimbangan (consideration) dan perenungan (contemplation). Mencermati rangkaian makna terbaca, kata ini memiliki makna integral dalam konteks kecerdasan manusia; intelektual, spiritual dan moral. Itulah kemungkinan yang dapat kita tangkap mengapa Al-Qur’an menggunakan kata tadabbur.

Di penghujung kata, perkenankan saya mengucapkkan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadlon, semoga Alloh senantiasa meringankan langkah kita dalam kebaikan, menerima segala amal ibadah kita dan masih mempertemukan kita di Ramadlon tahun yang akan datang. Amin.

Leave Your Observation

Your email address will not be published.

 

Skip to toolbar