Category Archives: Pertanian

Pertanian

Pemupukan Berimbang

Pemupukan adalah merupakan suatu cara pemberian unsur hara atau pupuk kepada tanah yang tujuannya agar dapat diserap olah tanaman (unsur hara adalah makanannya tanaman), apabila tanaman digambarkan sebagai manusia, maka apabila kita menghendaki pertumbuhan tanaman agar dapat optimal kebutuhan makan suatu tumbuhan harus mencukupi 4 sehat 5 sempurna, yaitu semua kebutuhan tanaman tercukupi, manusia tidak akan dapat tumbuh sehat jika hanya mengkonsumsi karbohidrat saja walaupun itu dalam jumlah sangat banyak. Selain itu waktu makan juga dapat mempengaruhi pertumbuhan. sebagai halnya manusia, waktu makan yang tepat adalah 3 hari sekali, yaitu pagi, siang dan sore. manusia juga tidak akan tumbuh sehat jika hanya mengkonsumsi pada pagi hari saja, walaupun itu juga dalam jumlah yang banyak. Dengan ini maka dapat diambil kesimpulan :
Pemupukan Berimbang Adalah pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman dan pada saat waktu yang tepat.


Unsur Hara Yang Diberikan

Adapun unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit.
Unsur hara makro : Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S),
Sedangkan Unsur hara mikro : Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo), Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl).

Banyak para petani dan para pecinta tanaman hias bertanya apa fungsi dari unsur NPK pada pupuk, berikut ini fungsi dari unsur hara NPK (secara umum):
1. N (Nitrogen)
-Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
-Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
-Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
-Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
-Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.

2.Phospat (P)
-Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
-Merangsang pembungaan dan pembuahan
-Merangsang pertumbuhan akar
-Merangsang pembentukan biji
-Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
-Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan (kurang sehat)

3.Kalium (K)
-Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
-Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
-Pada tanaman padi dapat menambah bobot pada gabah dan membuat gabah menjadi mentes.
-Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.

Untuk Pupuk NPK dapat berasal dari pupuk NPK yang sudah majemuk (pupuk yang  didalamnya sudah terkandung unsur NPK, atau campuran antara pupuk N, pupuk P2O5 atau pupuk K2O.

Untuk unsur hara selain NPK diatas, dapat diperoleh pada pupuk organik (dapt berupa pupuk kompos, pupuk kandang yang sudah matang atau pupuk organik kemasan lainnya).

 

Waktu Pemupukan

Sedangkan untuk waktu, pemupukan tanaman padi dilakukan sebanyak 3 kali, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan tanaman untuk mengkonsumsi unsur hara. Waktu tersebut adalah :
1. Saat awal tanam untuk pertumbuhan daun baru dan membentuk anakan. pada awal pertumbuhan ini biasanya tanaman padi sangat membutuhkan banyak nutrisi, oleh sebab itu pada saat ini perlu dilakukan pemupukan yaitu PEMUPUKAN DASAR, adapun waktunya antara 0 hst – 3 hst.

2. Saat tanaman mulai tumbuh besar dan pembesaran anakan, selain itu untuk mengokohkan batang agar tidak mudah rebah dalam pertumbuhan. pada saat ini tanaman juga sangat membutuhkan nutrisi, oleh sebab itu juga perlu dilakukan pemupukan, biasanya dikenal dengan istilah PEMUPUKAN SUSULAN 1, adapun waktunya antara umur 21 hst – 24 hst.

3. Saat tanaman sebelum melakukan premordia, yaitu sebelum tanaman bunting (akan membentuk bakal biji yang nantinya akan manjadi bulir padi). pada saat inilah waktu yang paling kritis, apabila pemupukan terlambat maka bulir padi yang terbentuk akan sedikit karena saat tanaman akan menghasilkan bulir, nutrisi yang dibututhkan tanaman tidak tercukupi. Oleh sebab itu pada waktu – waktu ini tanaman padi sangat membutuhkan pupuk, biasanya dikenal dengan istilah PEMUPUKAN SUSULAN 2, yaitu antara umur 39 hst – 41 hst.

Sedangkan untuk dosis pemupukan disesuaikan dengan rekomendasi pemerintah dan petugas lapangan setempat.

Apabila pemupukan berimbang ini dapat diaplikasikan pada pertanaman padi, maka dapat dipastikan pertumbuhan tanaman akan dapat optimal dan dapat menghasilkan produksi sesuai dengan yang kita inginkan.

Pemupukan Sawit

Kelapa sawit (Elaeis Guinensis Jacq) diketahui sebagai primadona tanaman perkebunan di Indonesia, tanaman dengan produksi minyak serta Biomas yang tinggi ini memerlukan pemupukan yang cukup intensif. Tanaman ini juga sangat responsif terhadap pemupukan sehingga kurangnya/tidak tercukupinya unsur hara makro, mikro dan unsur lainnya pada tanaman kelapa sawit ini akan menimbulkan gejala defisiensi yang spesifik disamping turunnya pertumbuhan dan hasil tanaman kelapa sawit itu sendiri.

Tidak dipungkiri bahwa pemasaran CPO (Crude Palm Oil) yang membaik dari tahun ke tahun berimbas secara nyata terhadap kondisi perekonomian petani pengelola kelapa sawit. Survey terhadap kondisi sosial ekonomi petani sawit di kabupaten Merangin menunjukkan bahwa pendapatan petani rata-rata meningkat 300% sejak kelapa sawit berproduksi dibanding sebelum kelapa sawit berproduksi. Secara nominal pendapatan petani rata-rata pertahunnya Rp. 9.800.000 – Rp. 18.000.000 / tahun dimana kelapa sawit berkontribusi antara 85 – 90% dari total pendapatan tersebut. (Puslittanak, 2004)

Dibalik kesuksesan tersebut teramati adanya perubahan perilaku petani yang mengarah keadaan konsumtif dan kurang peduli dengan kemerosotan produksi kelapa sawit karena pengelolaannya kurang baik terutama aspek pemupukannya. Rendahnya pengetahuan petani dalam menginterpretasi fenomena hubungan tanah-tanaman merupakan faktor yang berkontribusi besar pada perubahan perilaku tersebut.

Pupuk adalah makanan (unsur hara) yang sangat dibutuhkan bagi tanaman, pemupukan atau pupuk yang baik harus cukup sesuai kuantitas dan kualitas yang diperlukan tanaman.

Masih banyak petani yang memupuk kelapa sawitnya memakai pupuk tunggal terdiri dari Urea sebagai sumber Nitrogen, SP-36 sebagai sumber Phophate dan KCL sebagai sumber Kalium dengan dosis seadanya tanpa menghiraukan anjuran dari perusahaan. Dalam prakteknya rata-rata petani memupuk sawitnya dengan jumlah 1,0 kg untuk sawit muda dan 2,0 kg per pohon untuk sawit produktif, terdiri dari pupuk N, P dan K untuk setiap semesternya. Jumlah pupuk yang diberikan ini masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan oleh tanaman sawit dimana berdasarkan anjuran perusahaan kebutuhan sawit muda dan produktif akan pupuk masing-masing sebanyak 4,0 kg dan 8,0 kg/pohon/semesternya. Kondisi tersebut didorong oleh kesulitan dalam memperoleh pupuk, masalah transportasi dan cara pemberian pupuk.

Efisiensi pemupukan yang rendah karena pemupukan dilakukan dengan cara menyebar rata di permukaan tanah. Pemupukan Nitrogen bersumber sebagai Urea disebar rata pada permukaan tanah sangat beresiko terhadap kehilangan nitrogen terutama pada musim hujan. Pada kondisi ini kehilangan nitrogen bisa mencapai 70% dalam waktu seminggu. Sedangkan Uexhull dan Fairhust (1991) menyatakan bahwa kehilangan pupuk phosphate dan kalium sangat menonjol pada lahan yang tidak dikonversi karena unsur ini terikat pada partikel liat tanah dan bahan organik yang terbawa oleh erosi dan aliran permukaan. Kehilangan unsur ini bisa menurunkan hasil antara 25 – 30%. Kombinasi dari semua faktor tersebut menyebabkan rendahnya produktivitas kelapa sawit terutama kebun rakyat.

Melihat peranan kelapa sawit dalam perekonomian rumah tangga petani permasalahan pengelolaan kebun kelapa sawit ini menjadi sangat penting untuk dicarikan solusinya, untuk itu PT. RAM Sakti Pratama selaku perusahaan yang bergerak di bidang pupuk anorganik majemuk lengkap telah memproduksi produk pupuk yang mampu menjawab permasalahan pengelolaan kebun kelapa sawit tersebut diatas.

PT. RAM Sakti Pratama adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fertilizer Processing and Packaging Industry memperkenalkan pupuk anorganik majemuk lengkap yang diformulasikan khusus untuk tanaman kelapa sawit yang Praktis, Ekonomis dan Efisien.

“NPK Super + TE”

“Teknologi Pertanian” pada pupuk NPK Super dari PT. RAM Sakti Pratama mengarah pada peningkatan Source dan Metabolisme tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh & berproduksi lebih Optimal

Efektifitas penyerapan pupuk hingga 95% karena pupuk NPK Super + TE dibuat berbentuk batangan (Stick) dengan metode pemupukan ditanamkan kedalam tanah. Hal ini akan menghindari faktor kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh penguapan dan erosi / hanyut terbawa air hujan.

Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman kelapa sawit antara lain :

  • Nitrogen (N) = Urea/ZA
  • Phosphate (P205) = TSP/SP-36
  • Potassium (K2O) = KCL/MOP
  • Magnesium (MgO) = Kieserit
  • Sulfur (S) = (MgSo4) Kieserit
  • Calsium (Ca Mg) = Dolomit
  • Boron (B) = Borax
  • Copper (Cu) = CuSO4
  • Zinc (Zn) = ZnSO4
  • Manganese (Mn) = MnSO4

Pupuk sawit NPK Super+TE memiliki beberapa keunggulan dan manfaat yang lebih baik dari pupuk tunggal atau pupuk majemuk lainnya, antara lain :

  1. Mengandung unsur hara LENGKAP dan SEIMBANG.
  2. Bersifat SLOW RELEASE (Controlled Fertilizer) karena mengandung bahan pengikat dan terbungkus dengan bahan yang terbuat dari bahan organik, sehingga akan menjamin ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sawit sampai periode pemupukan berikutnya.
  3. Efektifitas penyerapan pupuk sampai 95% karena pupuk NPK Super + TE dibuat berbentuk batangan (Stick) dengan metode pemupukan ditanamkan kedalam tanah. Hal ini akan menghindari kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh penguapan dan erosi/hanyut terbawa oleh air hujan.
  4. Mengandung unsur hara makro primer, sekunder dan unsur mikro essencial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit.
  5. PRAKTIS, Mudah dalam pengaplikasian. EKONOMIS, Hemat tenaga kerja dan hemat transportasi serta harga pupuk yang kompetitif. EFISIEN, dikemas dalam kotak sehingga tidak memerlukan ruang yang besar dan tidak berbau.
  6. Terhindar dari resiko pupuk hilang akibat erosi/hanyut terbawa arus dan penguapan akibat panas.
  7. Dapat meningkatkan kesuburan tanah, menguraikan dan mempermudah penyerapan serta penyaluran nutrisi keseluruh tanaman sawit.
  8. Dapat digunakan untuk pemupukan tanaman perkebunan lainnya seperti karet, cacao, kopi, kelapa tanaman buah-buahan seperti durian, mangga dan lain-lain.

 

 

Continue reading

Pemupukan Padi

Pendahuluan. Untuk menyukseskan program peningkatan produksi padi sawah di Sulawesi Tenggara, acuan pemupukan spesifik lokasi sangat diperlukan.  Produktivitas  padi sawah di tingkat petani baru mencapai 3,46 t/ha GKG (BPS Sultra, 2002). Masih rendahnya   produktivitas padi sawah di antaranya disebabkan oleh kurangnya ketersediaan hara dalam tanah (Sudaryono, 1994 ; Suyamto, 1994). Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman padi sawah dapat diberikan melalui pemupukan. nitrogen (N), posfor (P), dan kalium (K) merupakan hara yang paling banyak dibutuhkan tanaman padi sawah dibanding hara lainnya.

Hara N, P dan K yang ditambahkan ke dalam  tanah harus dalam jumlah yang tepat. Jenis tanah, tingkat ketersediaan hara dalam tanah, kondisi iklim, varietas padi sawah yang ditanam dan cara pemberian pupuk akan sangat menentukan ketetapan jenis dan dosis pupuk yang harus ditambahkan. Untuk menghasilkan padi sawah sebanyak 3 t/ha, dibutuhkan hara sekitar 54 kg N, 60 kg P2O5 dan 55 kg K2O/ha/musim (Djaenuddin et al., 2000). Sebagai pembanding, hasil penelitian Idris et al. (2002) menunjukkan bahwa pemupukan 90 kg N, 72 kg P2O5 dan 50 kg K2O/ha/musim menghasilkan gabah kering giling (GKG) + 5,4 t/ha/musim. Kelebihan atau kekurangan hara tersebut akan mempengaruhi efisiensi hara akibat terganggunya absorbsi hara dalam tanah dan metabolisme tanaman. Disamping itu, kelebihan hara juga dapat merusak lingkungan, memicu timbulnya kekahatan hara yang lain.  Sentra produksi padi sawah di Sultra memiliki agroekologi yang beragam. Oleh karena itu acuan pemupukan spesifik lokasi sangat diperlukan agar pemberian pupuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi.

Gejala Kekurangan N

Kekurangan N dapat menyebabkan daun menjadi hijau kekuningan sampai menguning seluruhnya, pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil, dan pada gejala yang lebih berat lagi daun menjadi kering mulai dari bagian bawah terus kebagian atas.

Gejala Kekurangan P

Kekurangan  P dapat menyebabkan keadaan perakaran tanaman berkurang dan tidak berkembang. Dalam keadaan kekurangan P yang parah, daun, cabang, dan batang berwarna ungu. Hasil tanaman menurun.

Gejala Kekurangan K

Kekurangan K menyebabkan pertumbuhan tanaman lambat dan kerdil. Daun sebelah bawah terbakar  pada tepi dan ujungnya, kemudain berjatuhan sebelum waktunya. Tanaman mudah patah dan rebah. Daun mula-mula mengkerut dan mengkilap, selanjutnya pada bagian ujung dan tepi daun mulai terlihat warna kening-kuningan yang menjalar di antara tulang daun. Kemudian tampak bercak-bercak merah coklat dan akhirnya daun mati.

Cara Pemberian Pupuk

Yang perlu diperhatikan untuk mengurangi penurunan ketersediaan pupuk adalah waktu dan cara pemberian pupuk. Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman Padi sawah dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut dalam air sehingga mudah hilang, baik melalui pencucian maupun penguapan. Untuk mengurangi kehilangan N, pupuk N sebaiknya diberikan secara bertahap, yaitu 1/2 bagian dosis pupuk N serta seluruh dosis pupuk P dan K diberikan pada awal tanam, sedangkan       1/2  dosis pupuk N  diberikan pada umur 40 hari setelah tanam. Cara pemberian pupuk yang baik adalah dengan jalan menabur secara merata dipermukaan tanah/sawah  dengan kondisi air + 5 cm.    Penyusunan acuan rekomendasi pemupukan padi sawah didasarkan hasil-hasil analisa tanah dan hasil penelitian pemupukan padi sawah oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanaian Sultra dan Balai lainnya.

Penentuan rekomendasi pemupukan didasarkan atas status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Filosopinya adalah pada tanah dengan status hara yang rendah, respon pemupukan sangat tinggi, status sedang sedikit respon dan pada status hara tinggi tanaman tidak respon lagi. Artinya, pada tanah yang berstatus hara tinggi pemberian pupuk tidak mempengaruhi produksi, status sedang mempengaruhi produksi dan pada status rendah nyata mempengaruhi produksi.

Acuan dosis rekomendasi disajikan dalam bentuk unsur hara, sehingga dapat menggunakan jenis pupuk apa saja yang tersedia di pasaran, asalkan kandungan haranya sesuai dengan kebutuhan dalam acuan ini. Acuan rekomendasi pemupukan masing-masing sentra pengembangan padi sawah disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Acuan dosis pupuk N, P dan K spesifik lokasi untuk  tanaman Padi sawah.

No. Kecamatan Dosis Pupuk (kg/ha)
N *) P2O5 K2O
1 Mowewe
Horodopi -128 2180 505
Inebenggi -128 720 125
Waitombo -122 220 125
2 Abuki
Alosika -63 70 145
Padangguni -25 130 125
Asolu -61 210 -115
Mekarsari -107 90 45
3 Lambuya
Tawa molawe -113 30 -55
Tanggobu -103 -10 5
Lambuya -83 -10 5
Ameroro -95 -70 125
4 Lainea
Punggaluku -103 10 105
Ambolanggadue 99 150 65
5 Ladongi
Atula -109 10 285
Welala -109 -10 125
6. Wondulako
Bende -101 290 45
Trandat -97 90 -15
7. Bungi -41 50 165
8. Landono -79 -30 -95
9. Wawotobi -101 -70 45

Keterangan :*) diberikan 2 kali (½ dosis pada saat tanam dan ½ dosis sisanya pada umur 40 hst)  ; (-) belum ada hasil analisa tanah; Angka negatif = kekurangan yang perlu ditambah; Angka positif  =  kelebihan yang tersimpan di tanah; Tahun berikutnya = status hara yang ada – kebutuhan tanaman

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Propinsi Sultra. 2002. Sulawesi Tenggara dalam Angka 2001.

Idris, Suharno, dan Sahardi. 2002. Kajian Peningkatan Produksi Padi sawah di Sulawesi Tenggara. Laporan hasil Penelitian BPTP Sulawesi Tenggara, tahun 2002.

Djaenuddin, D., Marwan H., Subagyo, Anny Mulayani, dan N. Suharta. 2000. Kriteria Kesesuaian  Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Sudaryono, 1994. Rakitan teknologi budidaya padi sawah pada lahan kering di Sulawesi Tenggara.

Suyamto,  1994.  Perbaikan sistem usaha tani berbasis padi sawah pada lahan kering di Sulawesi Tenggara.

Source: http://sultra.litbang.deptan.go.id

Cara Pengolahan Pupuk Kompos

Dalam saya biasanya kalo membuat kompos sangat sederhana… Tidak ada bahan khusus sih yang diperlukan..

Cara Pengolahan Pupuk Kompos sederhana sebagai berikut:

Biasanya saya hanya menyiapkah lubang untuk tempat sampah sehari-hari. Misalnya ibu saya membuang kotoran hasil sisa bahan-bahan masak. Atau misalnya daun-daunan atau kulit pisang.. bahkan kadang plastik juga hehehe… tapi gak penting kalau plastik…

nah ntar kan sampahnya udah penuh kalau udah beberapa minggu. langsung saja ditimbun tanah sama ditanamin pisang.. Nanti pasti pisangnya akan tumbuh besar dan anaknya banyak.. Berbeda kalau tanpa kompos sederhana ini pasti hasilnya kurang memuaskan…

Cara Pengolahan Pupuk Kompos memang sangat bermacam macam. tergantung kebutuhan. Kalau saya biasanya hanya untuk nanam pisang  saja bukan untuk yang lebih kompleks..

oke itu saja sharing saya.. semoga bermanfaat ya..