TEORI TRAIT AND FACTOR

January 6, 2015 at 10:21 am

TEORI TRAIT AND FACTOR

BAB I

Pendahuluan

A.   Latar belakang

Trait-factor counseling sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang  mengena paling-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan pehaman diri mellui testing psikologis dan penerapan pmahaman itu dalam mmcahkan berraneka probem yang dihadapi, trutama yang menyangkut pilihan program stiudy dan/bidang pekerjaan.pelopor pengembangan corak konseling ini yang terkenalnialah E.G. Williamson,

Corak konseling ini dii kenal juga dengn nama directive conseling  atau Counselor centered conseling,karena konselor secara sadar mengadakan stukturalisasi dalam proses konseling dan berusaha mempengaruhi arah perkembangan konseli demi kebaikan konseli sendiri. Corak konseli ini menilai tinggi kemampuan manusia untuk berfikir rasional dan memandang masalah konseli sebagai problem yang harus di pecahkan dengan menggunakan kemampuan itu (Problem solving approach).Dalam bukunya yang berjudul vocational conseling (1965) Williamson menguraikan sejarah perkembangan bimbingan jabatan dan proses lahirnya konseling jabatan yang berpegang pada teori trait –faktor.Dalam bukunya choosing a vacation (1909), frank parsons menunjukan tiga langkah yang harus diikuti dalam memilih suatu pekerjaan yang sesuai, yaitu:

  1. Langkah pertama
  2. Pemahaman diri yang jelas mengenai kemampuan otak, bakat, minat berbagai kelebihan dan kelemahan,serta cirri-ciri yang lain.
  3. Pengetahuan tentang keseluruhan persyaratan yang harus dipenuhi supaya dapat mencapai sukses dalam berbagai bidang pekerjaan, serta tentang balas jasa dan kesempatan untuk maju dalam semua bidang pekerjaan itu
  4. Berpikir secara rasional mengenai hubungan antara kedua kelompok fakta diatas.

 

Jadi, langkah yang pertama menggunakan analisis diri:

  1. Langkah yang kedua memanfaatkan informasi jabatan (vocational information)

 

  1. Langkah yang ketiga menerapkan kemampuan untuk berfikir rasional guna menemukan kecocokan antara ciri-ciri kepribadian, yang mempunyai relevansi terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam satu pekerjaan atau jabatan, dengan tuntutan kualifikasi dan kesempatan yang terkandung dalam suatu pekerjaan atau jabatan.

 

Dengan demikian, orang muda bukannya mencari pekerjaan demi asal punya pekerjaan (the bunt of a job), melainkan memilih secara sadar suatu pekerjaan yang berfungsi sebagai jabatan ( the choice of a vocation).

B.   Rumusan masalah

  1. Apa yang dimaksud Trait and Factor ?
  2. Bagaimana konsep Trait and Factor ?
  3. Apa kelebihan & kelemahan konseling Trait and Factor ?

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. Teori Trait and Factor

Teori trait and factor  dikembangkan oleh beberapa ahli perkembangan karir seperti Frank Parson, E. G. Williamson, D.G Patterson, J.G Darley, dan Miller yang tergabung dalam kelompok “Minnesota(Munandir,1996).

Istilah “trait” merujuk pada karakteristik individu yang dapat diukur melalui tes, “factor” merujuk pada karakteristik yang dibutuhkan untuk penampilan kerja yang sukses. Jadi, istilah “trait and factor” merujuk pada penilaian karakteristik individu dan pekerjaan (Sharf,1992:17).

Dalam asesmen trait ini, parson (Sharf,1992 :17) mengajukan bahwa untuk memilih karir,seorang individu idealnya harus memiliki :

  1. Pengertian yang jelas mengenai diri sendiri, sikap, minat ,ambisi,batasan sumber dan akibatnya
  2. Pengetahuan akan syarat-syarat dari kondisi sukses ,keuntungan dan kerugian ,kompensasi,kesempatan dan harapan masa depan pada jenis pekerjaan yang berbeda-beda,dan
  3. Pemikiran yang nyata mengenai hubungan-hubungan antara dua kelompok atau fakta-fakta ini.

Crites (1981:22) berpendapat bahwa perkembangan karir individu berdasarkan teori trait and factor  didasarkan pada tiga asumsi berikut ini :

  1. Dengan cara psikologisnya yang khas, bagi setiap individu yang paling cocok adalah bekerja disuatu jenis pekerjaan tertentu
  2. Sekelompok pekerjaan dalam pekerjaan-pekerjaan yang berlainan mempunyai ciri psikologis yang berlainan pula
  3. Penyesuaian vokasional berbeda-beda,selaras dengan seberapa jauh kesesuaian antara cirri-ciri pribadi individu yang bersangkutan dengan tuntutan dunia kerja tertentu

Manrihu (1985:64) menjelaskan bahwa teori trait and factor termasuk kedalam teori structural.Teori trait and factor memandang individu sebagai organisasi kapasitas dan sifat-sifat lain yang dapat diukur dan dihubungkan dengan persyaratan program latihan atas dasar informasi yang diperoleh tentang perbedaan-perbedaan individu yang menduduki okupasi atau hubungan pilihan karir dan kepuasan. Teori trait and factor lebih deskriptif pengaruhnya terhadap pilihan karir daripada menjelaskan perkembangan karir.

Menurut pandangan parson dan Williamson(Winkel,1996:575) cirri khas dari teori trait and factor ialah bahwa seseorang dapat menemukan vokasional yang cocok baginya dengan mengkorelasikan kemampuan,potensi,dan wujud minat yang dimilikinya dengan kualitas-kualitas yang secara objektif dituntut bila akan memegang vokasional tertentu.Pandangan ini bagaimana individu membuat pilihan karir yang dapat dipertanggungjawabkan .Kemampuan dan minat individu ini dapat diketahui melalui testing.

TEORI FAKTOR SIFAT

Teori awal yang muncul bagi konseling dan pengembangan karier tersebut faktor sifat/watak (trait faktor).Label ini berangkat dari asumsi bahwa dengan nilai sifat/watak individu lewat ukuran-ukuran objektif lalu menyesuaikanya dengan yang biasanya dibuktikan dengan perfoma yang sukses diwilayah karier tertentu akan memampukan konselor menyediakan bantuan objektif bagi klien yang mencari arah karier.

Pendekatan faktor sifat/watak ini di dasarkan pada kosep frank persons tentang bimbingan kerja yang di uraikan di bukunya choosing a vocation (1909).di buku ini person menyarankan 3 langkah besar untuk mengembangkan pengambilan keputusan karier individu. Dalam bentuk ringkasanya, langkah-langkah tersebut berbunyi sebagai berikut :

  1. Sebuah pemahamaan yang jelas dan objektif tentang diri seseorang seperti kemampuanya,minatnya,sikapnya dan lain lain..
  2. Sebuah pengetahuan tetang persyaratan dan karaktiristik karier yang spesifik.
  3. Sebuah pengakuan dan pengaplikasian hubungan antara poin 1 dan 2 diatas bagi sebuah perencanaan karier yang sukses.

Pendekatan faktor sifat/watak bagi pengambilan keputusan karier adalah yang tertua,yang mungkin  paling bertahan lama dari sekian pendekatan teorities yang tersedia bagi konseling karier.

 

  1. Konsep Teori Trait and Factor

Pada dasarnya teori trait and factor menyatakan bahwa pemilihan karir individu sangat ditentukan oleh kesesuaian kemampuan (abilities), minat ,prestasi,nilai-nilai dan kepribadian dengan dunia kerja.

Pandangan yang luas dari teori trait and factor menunjukan bagaimana kesemua itu dapat digunakan untuk mengkonseptualisasikan perkembangan karir. Parson (Sharf,1992:18) mengkarakterisasikan

Tahap pertama,dari pilihan karir adalah manfaat dari ”pemahaman diri,sikap,minat kemampuan,minat ambisi,sumber daya dan penyebabnya”.Pada tahap ini prestasi,bakat,minat.nilai dan kepribadian untuk merefleksikan lima tipe dari perkiraan yang muncul sebagai sesuatu yang penting pada konseling karir.

Tahap kedua, adalah mendapatkan “pengetahuan dari syaraf dan kondisi kesuksesan,keuntungan dan ketidak untungan,kompensasi kesempatan dan prospek dalam jalur karir yang berbeda.”pada tahap ini didiskusikan bagaimana konselor dapat membantu konseli dalam mendapatkan pengetahuan ini.

Tahap ketiga, menurut Parson adalah bahwa sebuah pilihan yang diharapkan dibuat dengan “alasan yang benar dari hubungan dua kelompok ini”.

 

  1. Tahap 1 : Memperoleh Pemahaman Diri

Pada tahap ini dideskripsikan minimal lima jenis tes yang sering digunakan oleh konselor dalam konseling karir trait ang factor, yaitu bakat(aptitudes),prestasi,minat,nilai-nilai dan kepribadian.Berikut penjelasan dari kelima jenis tes tersebut.

  1. Bakat (Aptitudes)

Tes bakat digunakan untuk memprediksi level kemungkinan yang akan terjadi dan kemampuan individu untuk melaksanakan tugas. Bakat individu dapat diketahui melalui tes.Instrumen tesyang biasa digunakan dalam pengukuran bakat ini antara lain :Baterai Primary Mental Abilities (PMA) dari Thurstone, differential Aptitude Tests (DAT) terbitan Psychological Corporation,the ACT Assessment Program Academic Tests (ACT), dan Armed Services Vocational aptitude Battery(ASVAB).Di Indonesia untuk mengukur bakat individu dugunakan tes yang bernama Intelligence Structure Tests(IST) yang terdiri dari 9 aspek bakat.

  1. Prestasi (Achievements)

Sharf (1992:22) mengemukakan bahwa”achievement refer to a board range of events that individuals participate in and accomplish during their lifetime”. Prestasi dapat dibagi kedalam tiga tipe,yaitu: pertama, prestasi akademik ,biasanya diukur dengan angka,tetapi dengan skor tes khusus.kedua, prestasi dalam kerja,seperti kesempurnaan tugas-tugas.ketiga, yang sangat cocok dengan teori trait and factor ,yaitu prestasi yang terkait dengan syarat-syarat untuk memasuki dunia kerja.Prestasi dapat diukur secara kuantitaif melalui tes-tes yang digunakan untuk memasuki salah satu profesi.

 

  1. Minat(Interests)

Minat diartikan sebagai kehendak,keinginan atau kesukaan(Kamisa,1997:370).Minat adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan berhubungan berat dengan sikap.Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan sesuatu menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya.Hurlock(1986:144) mengatakan bahwa minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang merela inginkan bila mereka bebas memilih.Herr & Crammer(1984:94) mengemukakan bahwa minat adalah ENTRY POINT yang dapat memprediksikan karir individu daripada bakat dengan beberapa kemampuan.Alasannya adalah bahwa memasuki pekerjaan dapat diprediksi lebih baik dari minat daripada sikap individu dengan banyak kemampuan yang bisa memilih dari rangkaian yang luas.Tidak sama dengan tes sikap mempunyai skala kerja yang khusus.

 

  1. Nilai-nilai(values)

Nilai-nilai melambangkan sesuatu yang penting.Nilai-nilai sebagai suatu yang sulit untuk memperkirakan kemungkinannya.Nilai-nilai yang sangat penting dalam konseling karir yaitu nilai-nilai umum dan nilai-nilai dunia kerja.adapun maksud dari pengetahuan mengenai nilai-nilai ini adalah agar individu mampu memutuskan arah karir yang jelas.Instrumen inventori yang digunakan adalah : Study of values(SV) yang mengukur aspek :theoretical,economic,aesthetic,social,political,and religious , Value scale (VS) yang mengukur aspek: ability utilization,achievement,advancement,aesthetics,altruism,authority,life style,dan lainnya.(Sharf,1992:22).

 

  1. Kepribadian (Personality)

Pengukuran dari kepribadian telah menjadi area penting dari belajar dan berguna untuk mengkonseptualisasikan individu dalam pilihan vokasional.Minimal terdapat tiga jenis instrument untuk mengukur kepribadian individu, yaitu California Psychological Inventory(CPI), the sixteen Personality Factor Questionaire(16 PF). Konselor dapat mencocokan

profil kepribadian konseli dengan karir yang cocok.

 

 

  1. Tahap 2 : Memperoleh Pengetahuan tentang Dunia Kerja

Informasi pekerjaan ialah unsure penunjang kedua dari teori trait and factor.Peran konselor adalah membantu konseli untuk mengumpulkan informasi pekerjaan . untuk mengumpulkan informasi tidak perlu tergantung hanya kepada pengetahuan karur seorang konselor, tetapi menggunakan banyak sumber untuk menambah pengetahuan ini.Terdapat tiga aspek penting terkait dengan informasi pekerjaan ,yaitu 1. Menggambarkan pekerjaan,kondisi pekerjaan atau masalah gaji. 2. Pengelompokkan pekerjaan dan 3. Membantu mengetahui karakteristik dan kebutuhan untuk masing-masing pekerjaan.

Jenis-jenis informasi pekerjaan, informasi pekerjaan dapat dieksplorasi dari berbagai sumber yang berbeda,contohnya melalui brosur yang dibuat oleh asosiasi pekerjaan professional,pamphlet,yang bisa didapatkan melalui penerbit khusus yang menangani tentang informasi pekerjaan.tipe informasi yang paling penting untuk konselor adalah mengetahui uraian tentang berbagai jenis pekerjaan.

System Klasifikasi, karena system klasifikasi ini dapat membingungkan dari banyaknya informasi yang tersedia bagi konselor dan konseli,system klasifikasi ini perlu disusun untuk informasi pekerjaan.Sistem klasifikasi ini telah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

 

  1. Tahap 3 : Mengintegrasikan Informasi tentang Diri dan Dunia Kerja

Langkah ketiga ini adalah mengintegrasikan informasi tentang diri dan dunia kerja.Informasi pekerjaan diindikasikan dengan bahan-bahan penerimaan,ketertarikan atau minat,nilai,dan karakter pribadi yang dibutuhkan setiap pekerjaan.

 

  1. Kelebihan dan kelemahan konseling trait and factor

Kelebihannya  teori ini  diantara lain:

  1. Teori ciri dan sifat menerapkan pendekatan ilmiah pada konseling .
  2. Penekanan pada penggunaan data test objektif, membawa kepada upaya perbaikan dalam pengembangan test dan penggunanya serta perbaikan dalam pengumpulan data lingkungan
  3. Penekanan yang diberikan pada diagnos mengandung nama sabagai suatu perhatian terhadap masalah dan sumbernya mengarahkan kepada upaya mengkreasian, teknik-teknik untuk mengatasinya
  4. Penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menyeimbangkan pandangan lain yang lebih menekankan afektif atau emosional .

Kelemahan tersebut itu adalah sebagai berikut:

  1. Kurang diindahkan adanya pengaruh dari perasaan, keinginan , dambaan aneka nilai budaya (cultural values),nilai-nilai kehidupan (personal values), dan cita-cita hidup, terhadap perkembangan jabatan anak remaja (vocational development) serta pilihan program atau bidang study dan bidang pekerjaan (vocational choice).
  2. Diandaikan bahwa pilihan jabatan dan pilihan program study terjadi sekali saja dan ini pun bersifat keputusan terakhir atau devinitif , dengan berfikir secara rasional. Padahal, pilihan seperti ini tidak dibuat sekali saja, tetapi dibuat secara bertahap-tahap dari pilihan intermedia sampai pada pilihan definitive dan bukan hanya berdasarkan proses berfikir rasional saja .
  3. Kurang diperhatikan peranan keluarga dekat, yang ikut mempengaruhi rangkaian pilihan anak dengan cara mengungkapkan harapan,dambaan dan memberikan pertimbangan untung-rugi sambil menunjuk pada tradisi keluarga,tuntutan mengingat ekonomi keluarga,serta keterbatasan yang konkret dalam kemampuan financial,dan sebagainya.
  4. Kurang diperhitungkan perubahan-perubahan dalam kehidupan masyarakat, yang ikut memperluas atau membatasi jumlah pilihan yang tersedia bagi seseorang.
  5. Kurang disadari bahwa konstelasi kualifikasi yang di tuntut untuk mencapai sukses di suatu bidang pekerjaan atau program studi dapat berubah selama tahun-tahun yang akan datang.
  6. Pola ciri-ciri kepribadian tertentu belum pasti sangat membatasi jumlah kesempatan yang terbuka bagi seseorang ,karena orang dari berbagai pola cirri kepribadian dapat mencapai sukses dibidang pekerjaan yang sama.

 

 

  Peran Konselor

Peran konselor adalah memberikan berbagai informasi mengenai jenis-jenis pekerjaan ,syarat-syarat dan tuntutannya serta prospek bagi individu.jenis pekerjaan,syarat-syarat dan tuntutannya serta prospek bagi individu.kemudian konselor diharapkan harus mampu membantu konseli memilih pekerjaan atau karir tertentu yang sesuai dengan kepribadian, minat, bakat, serta kemampuan.

Dalam hal ini konselor sebaiknnya mengarahkan konseling pada pemahaman konseli mengenai dirinya atau Self concept, untuk memudahkan pengintegrasian dengan pekerjaan atau karir tertentu.Pada saat konseling berlangsung ,konselor diharapkan mampu menggambarkan pilihan karir yang diharapkan oleh konseli.pada saat konseli mengungkapkan perasaan mengenai suatu pekerjaan, konseli harus dapat mengungkapkan alasan dibalik munculnya perasaan tersebut.Pilihan karir sifatnya kontemporer yang dapat berubah bil konseli menemukan pengalaman baru mengenai pekerjaan yang dirasakan sesuai dengan bakat, minat, nilai, dan kepribadiannya.Oleh karena itu,konseling sebaiknya dilakukan berulang-ulang pada waktu yang bervariasi dengan mengulang pengungkapan bakat, kemampuan, prestasi dan minat konseli sehingga kematangan karir tercapai.

 

 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Dalam hal ini dapat diterapkan suatu pendekatan yang mengambil inspirasi pada konseling trait and factor sebagaimana dikembangkan oleh Williamson, yaitu sebagai berikut:

  1. Konseli dibantu untuk mengumpulkan dan mengolah data tentang diri sendiri (data sikologis)
  2. Data tentang lingkungan hidup, yang meliputi data dan fakta kongkret tentang lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan bidang studi atau jabatan yang sedang ditinjau (data social).

Dengan demikian, keharusan untuk berfikir rasional tidak dikesampingkan, tetapi sudah tidak merupakan proses berfikir. Untuk menemukan kecocokan seperti mula-mula digambarkan dalam konseling trait and factor.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suherman. Uman.   .konseling karir sepanjang rentan kehidupan.kurang lengkap

Gibson Robert.2011.bimbingan dan konseling. Yogyakarta:pustaka pelajar.

Ws wingkel dan MM sri hastuti.2007. bimbingan dan konseling di institusi pendidikan. Yogyakarta: media abadi