Idul Adha 1429 dan Hujan

Maaf, judulnya ngaco. Asal njeplak. Ini bukan tulisan mengenai kurban, bukan juga hikmah dibaliknya. Ini soal perasaan (karena berpengaruh pada kekhusyukan)

Idul Adha 1429 jatuh pada bulan Desember, masa musim penghujan. Dalam rangka syiar sholat, Id dilaksanakan di tanah lapang, walaupun tanpa mengurangi nilai syiarnya sebagian jamaah lain saudaraku warga Nahdiyin berjamaah di masjid-masjib. Persoalan muncul ketika pagi itu, 8 Desember 2008, Yogyakarta mendung.

Jamaah sholat Id dijadwalkan mulai jam 6.30.ย Sesaat menjelang 6.30 mendung semakin gelap, setidaknya di lapangan saya mengikuti sholat Id bersama anak-anak dan istri, juga simbah dan om+buliknya anak-anak, rintik air mulai berjatuhan. Ketika sholat sudah berlangsung, pelan namun pasti, volume air yang jatuh semakin banyak. Celakanya (maaf, saya pilih kata ‘celaka’) imam tetap saja memilih surat yang lumayan panjang, ehh di rokaat keduapun surat yang dipilihnya tidak jauh lebih ringkas.

Beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rosululloh bersholat tidaklah egois, memperhatikan keadaan jamaah. Salah satu tuntunannya: jika berjamaah cepatkanlah, sebaliknya jika sholat sendirian nikmatilah. Ini mengandung pelajaran bahwa jamaah heterogen, mungkin ada yang flu sehingga ketika sujud berlama-lama justru akan mengganggu kenikmatan bersholat. Mungkin ada juga yang sedang meninggalkan sanak-keluarga di rumah yang tidak dapat ditinggal lama-lama. Atau kemungkinan-kemungkinan lain.

Tidak dapat dipungkiri juga anak-anak turut mengikuti jamaah. Haruskan anak-anak tidak diperkenankan berjamaah? Tentu bukan pilihan yang tepat. Kekisruhan anak-anak menunggu sholat yang tak kunjung usai justru dapat mengganggu kenikmatan bersholat.

Rosululloh pernah bersujud berlama-lama karena cucunda sedang naik di punggung Beliau, sekedar untuk sesaat memuaskan jiwa kekanakan cucunda. Ini sebentuk perhatian Rosululloh pada lingkungan sekitar. Toleransi.

Ketika dipanggil istri tercinta saat Rosululloh sholat, Beliau mengeraskan bacaan sholatnya untuk memastikan bahwa Beliau sedang sholat. Sholat khusyuk bukanlah sholat yang menyepi+menunarungu (men-tunarungu-kan diri) seolah-olah tidak melihat+mendengar keadaan sekitar.

Disaat peperangan, sholat berjamaahpun diatur sedemikian rupa pertahanan tidak diabaikan.

Kembali ke sholat Id di atas. Tidak bolehkah pilihan surat diperpendek untuk mempercepat durasi sholat, karena hujan mulai menderas? Ada orang-orang tua yang berjuang keras melawan kerentaan untuk mengikuti jamaah. Ada anak-anak yang riang bangun lebih pagi dari biasanya untuk dapat sholat Id di lapangan (walaupun mungkin lebih tertarik karena di lapangan ada penjual balon ๐Ÿ˜€ ).

Menurut hemat saya, imam yang bijak adalah imam yang mampu memastikan jamaahnya mengikuti sholat jamaah dengan khusyuk.

Bagaimana menurut Anda? Wallahu a’lam bisshowaab.

4 responses to Idul Adha 1429 dan Hujan

kalo Pak Azhari pilih kata celakanya, saya pilih kata untungnya sholat ied di JEC, yang diselenggarakan di dalam gedung ๐Ÿ˜€

soal imam (tanpa azhari tentunya) saya sering mikir gitu juga. bahkan hampir tiap sholat jumat pasti kepikiran. soale imam mesjid kampus ugm pasti baca ayat yang jarang banget dihafal (khususnya aku)

selain panjang, apa gag mikir nanti kalo salah yang meralat siapa ya ?

Klo di KAMPUNGku sih terang benderang,, tp -CELAKA-ny aku telat datengnya,, akhirnya pilih balik aja,, cz aku belum tau hukum masbuk shalat id gmn.. tp lebih condong ke rasa malu aja sih tar klo bnyk yg nglihat gmn. Lebih malu ke org drpd ke DIA.. oh my God.. ๐Ÿ™

Tentang imam bacaanny panjang kadang dengernya sejuk malah [moga gk jd ria dech] palagi yg di masjid kampus UGM, imamny dosenku dulu pas di UIN [dosen filsafat umum] [lupa namany]

[ni comment or crita..ehm..ehm]

wah jadi basah kuyup dunkz…

sempet denger berita jugag di alun2 utara, jama’ah nya pada berhamburan lari tunggang langgang ๐Ÿ˜€

heheh…
untung sayah di solat di bekasi (gag pake ujan) ๐Ÿ™‚

Leave a Reply