Terimakasih Anda Tidak Merokok di Lingkungan Kampus UAD

Sudah lama saya prihatin dengan spanduk-spanduk larangan merokok di lingkungan kampus UAD. Spanduk tinggal menjadi jargon macan ompong, banyak dan sering saya jumpai orang-orang merokok justru di bawah spanduk itu; tidak hanya mahasiswa (tapi jumlah ini yang banyak dan sering saya temui), tetapi juga staf, yang dengan berat hati terpaksa merokok di sudut-sudut kampus.

Kebijakan harusnya dikawal pelaksanaannya, dan yang tidak kalah penting adalah evaluasi. Sejauh saya cermati kebijakan larangan merokok tidak ‘diketahui’ sebenarnya siapakah ‘polisi’ penegaknya. Di awal-awal kebijakan itu diluncurkan, saya secara acak sering menegur dan mengajak mahasiswa yang saya temui untuk saya bantu mematikan rokoknya, atau memandunya ke arah keluar kampus jika terpaksa harus merokok. Belakangan saya menyurut mengingat ternyata staf juga tidak sedikit yang merokok (walaupun menyudutkan diri).

Evaluasi, sudahkah kebijakan itu di evaluasi: efektifitas dan maksud dikeluarkannya kebijakan tersebut. Saya kira dua hal inilah yang secara kelembagaan di UAD ini sangat lemah: Pengawalan kebijakan dan evaluasinya.

Bagaimana menurut Anda?

2 responses to Terimakasih Anda Tidak Merokok di Lingkungan Kampus UAD

SETUJU: Evaluasi, sudahkah kebijakan itu di evaluasi: efektifitas dan maksud dikeluarkannya kebijakan tersebut. Saya kira dua hal inilah yang secara kelembagaan di UAD ini sangat lemah: Pengawalan kebijakan dan evaluasinya.

Selama ini hanya gaung di depan….belakangan tindak-lanjutnya NOL BESAR alias ndak ada follow up jare wong sik iso bahasa inggris…

contoh: ada teman2 kary bilang…UAD nek tuku apa-apa iso tapi nek kon NGRUMAT….wassalam

saran saya, kenapa gak dicoba seperti di bandara yang di setiap terminalnya pasti ada ruang untuk merokok. Jadi di UAD di setiap pojokan, ada ruang khusus untuk merokok. bagus lagi kalau ada ruang khusus staff dan khusus mahasiswa. saya sendiri bukan perokok.

Leave a Reply