Ujian Buku Terbuka (?)

Mahasiswa: “Pak, apakah boleh membuka notebook?”

(Sejenak berpikir, sifat ujian buku terbuka. Revolusi buku telah sedemikian rupa berkembang sehingga buku tidak lagi dapat dipahami sebagai buku tercetak an sich. Jadi, sepontan saya jawab)

Saya: “Boleh…”

Sebenarnya saya agak ragu dengan jawaban saya. Layanan internet nirkabel memungkinkan satu mahasiswa dengan mahasiswa lain dapat berkomunikasi via chatting atau lainnya. Bahkan ketika tidak ada internet pun mereka masih bisa sms-an. Jadi tidak relevan jika ujian bersifat buku terbuka, tidak diperkenankan membuka komputer jinjing (note/netbook) hanya karena alasan khawatir akan terjadi komunikasi antarpeserta ujian.

Selain tidak ada batasan secara spesifik yang dituliskan pada sifat ujian, jadi buku dalam berbagai bentuk: tercetak, selebaran, notebook, netbook, dan buk-buk lainnya.

Pada mulanya saya berpikir bahwa si mahasiswa akan membuka-buka file-file catatan, presentasi si dosen, atau material lainnya. Ternyata si mahasiswa membuka mesin pencari: mencoba bertanya pada Google. Cerdik juga rupanya, jangan-jangan si dosen menemukan soal di Google, jadi klop kan jika nemu :))

Soal dinyatakan terbuka, berarti soal-soal sudah dipertimbangkan sedemikian rupa tidak sekedar dijawab dengan menemukan jawaban di lembar-lembar catatan. Ada ketrampilan dan kemampuan analitis (analytical skill) yang hendak diujikan si dosen. Saat ujian bukanlah saat yang tepat untuk belajar. Saat ujian adalah saat menguji kemampuan diri seberapa dalam keterserapan materi pembelajaran.

Ketika ujian, kita masih disibukkan dengan memahami konsep-konsep dasar, pastilah kita akan kehabisan waktu. Waktu menjadi salah satu batasan ujian yang juga harus ditepati. Jadi belajar sebelum ujian, apapun sifat ujiannya menjadi kebutuhan.

13 responses to Ujian Buku Terbuka (?)

wah…saya kok kurang setuju pak dengan jawaban yang anda berikan….mungkin sedikit deskriminasi ketika banyak temen2 yang tidak punya LAPTOP yang mereka bingung dengan mencari jawaban dari buku…sedangkan yang punya tinggal tanya aja mbah google udah dijawab….mungkin kebijakan OPEN book…diganti…hanya boleh buka BUKU…bukan noteBOOK…gitu pak…hehehe ” kasian–rakyat kecil–

Saya meyakini bahwa note/netbook hanyalah alat, tidak jauh lebih penting dari orangnya itu sendiri. bahwa dengan alat yang baik merupakan kesempatan yang lebih, ya. tetapi itu tidak otomatis.

Mas #endro bisa bayangkan jika internet lemot, atau bahkan mati. Dan ini tidak ada kaitan secara langsung dengan “kasian-rakyat-kecil”.

Google akan dengan suka cita menjawab apa saja yang kita tanyakan, bahkan ketika pertanyaan kita itu ngawur (seperti gambar di atas); tetapi jawaban yang disajikan Google tentu juga jawaban ngawur (asal sesuai dengan ranking halaman yang mereka indeks).

Jadi, tetap saja ia hanyalah alat. Saya cermati, mereka kehabisan waktu melakukan pencarian. Artinya, ini juga tidak terkait secara langsung dengan hasil ujian (nilai ujian).

Ya… memang notebook bisa dibilang sebuah catatan dalam bentuk elektronik, akan tetapi dengan alat itu kita juga bisa ,elihat catatan orang lain, bukan kah dalam peraturan hanya boleh melihat catatan masing-masing dengan adanya internet yang aktif maka akan membuat orang bisa membuaka catatan orang lain dalam bentuk file, blog, ataupun yang lainnya.
bukan masalah perkembangan jaman…..
klo melihat dengan cara perkembangan jaman kenapa ga sekalian ja ujiannya online…..!!!!!!!!!!!
wayoooooo….. gimana tuuu………

@adi: bener juga ya…

tapi peraturan mengenai kebolehan membuka catatan sendiri itu lebih ditekankan pada pengkondisian situasi ujian agar tidak terjadi ‘kericuhan’ pinjam-meminjam catatan/buku. ini di-i’tibar-i oleh ketidakbolehan pinjam-meminjam alat tulis.

jika catatan kawan lain telah disalin (fotokopi) sebelumnya tidak menjadi soal. justru ini masalah perkembangan jaman…

gimana nih… jadi ribet!

menarik juga permsalahan ini, mungkin skedar berbagi saja, saya juga pernah dapat pertanyaan serupa, khusus untuk matakuliah yg saya ampu, algoritma pemrograman misalnya, walaupun open book, saya tdk membolehkan buka laptop,krn utk ujian teori yg saya tekankan kemampuan logika memahami,menganalisis dan menuyusun program, jd mhs dilatih utk tdk hanya ‘pasrah’ semua nya ke kompiler. Kesalahan cara penulisan (syntax) dgn mudah terlihat ketika meng-compile program, tetapi untuk kesalahan logika program tentu saja programmer ‘tersangkanya’ 😀

Jadi boleh tdk-nya membuka laptop, menurut saya disesuaikan dg karakteristik matakuliahnya, dan dosen seharusnya lebih bijaksana (dan bijaksini :D) dlm membuat soal, (tidak copy paste dari internet dan kalau soal bisa diselesaikan dengan ‘alat’ tertentu maka ‘alat’ tersebut harus bisa diakses oleh seluruh mahasiswa :D,

Hahahaha.. Setuju saja saya.. AGREMENT + 1 point!

Karna sebenarnya pelajaran pada jurusan Sistem Informasi adalah logika, dan pemahaman. Bukan lagi ilmu eksak. Well, banyak cara untuk menuju suatu tujuan. Semua hanyalah salah satu metode dari sekian juta metode yang ada didunia ini.

Saya bangga dengan soal yang diberikan oleh salah satu dosen pembimbing saya (boleh sebut merek gak ya?). Yang membuat saya bangga adalah dosen tersebut selalu memberikan syarat OPEN BOOK setiap ujian apa pun yang di pegang nya. Tapi…. Jawaban nya TIDAK ADA DALAM EBOOK/PPT/PDF/GOOGLE yang ditampilkan saat pembelajaran, smua jawaban adalah pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan.

So, saya setuju, tetapi soal ujian tidak ada yang mengandung kata “APA YANG DIMAKSUD DENGAN …..” Tetapi “BAGAIMANA”. Well, level harus berbeda dengan soal anak sekolah, teori tanpa bisa mengaplikasikan adalah 0, tapi IP juga tergantung pada teori.
Is it cool?!

Disinilah sebuah kompetensi! When you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth – Sherlock Holmes

Mungkin menurut saya tidak semua mahasiswa bertindak seperti itu.. saya sebagai mahasiswa tentu menjalankan amanah ketika ujian tidak menyalakan internet, begitu pula kalau memang tidak di perbolehkan membuka laptop atau sebangsanya tentunya harus mencetak modul tersebut yang saya kira terlampau banyak. materi yang diujikan belum tentu semua mahasiswa bisa menemukan jawaban dari membuka laptop, dan saya berfikir membuka laptop hanya sebagai sarana membantu untuk mengingat apa yang telah mereka pelajari..

Leave a Reply