Balada si Natty dan Macintosh

Seri baru Ubuntu 11.04 akan dirilis dengan nama Natty Narwhal. Narwhal itu sejenis paus yang memiliki gigi panjang-berpilin *semacam gading pada gajah* yang hidup di laut Arktika. Biarpun masih pada versi Alfa 2 tetapi versi ini banyak ditunggu mengingat akan menawarkan beberapa perubahan yang cukup signifikan.

Secara resmi si Natty akan dirilis pada 28 April 2011.

Salah satu perubahan itu terletak pada penggunaan sesi desktop Unity pada si Natty. Eksplorasi desktop ini secara garis besar didominasi oleh (1) M$ Windows dengan taskbar di bagian bawah (walaupun secara dinamis dapat dipindahkan ke sisi layar manapun) dan ikon-ikon yang terserak di desktop, dan (2) Apple Mac yang menawarkan menu tunggal–apapun aplikasi yang dibuka, di bagian atas yang sangat intuitif.

Secara teknis rancangan interface ini dilandasi oleh Hukum Fitts untuk meningkatkan ‘kemudahan’ penggunaan sistem sebagai tujuan utama. Menurut hukum Fitts ini, pergerakan mouse untuk menuju sasaran efektifnya dipengaruhi oleh jarak dan ukuran objeknya. Semakin kecil ukuran objek sasaran akan mengurangi efektifitas seleksinya, demikian sebaliknya. Berdasarkan formulasi Fitts ini lokasi tepi layar merupakan lokasi ideal dengan efisiensi pencapaian sasaran yang tinggi.

Desktop dengan lokasi menu tunggal a la Mac-lah yang sangat efisien untuk penataan menu sehingga pencapaian ke pilihan menu itu dapat dilakukan dengan mudah. *celakanya, denger-2 bentuk ini dipatenkan sama pak Steve Jobs*

Fitur Unity menjadi salah satu strategi pada Ubuntu 11.04 untuk meningkatkan efisiensi rancangan interface yang menawarkan global menu a la Mac dengan sentuhan unik khas Ubuntu. Apalagi saat ini banyak gadget dengan ukuran layar yang kecil, maka rancangan interface menjadi tantangan tersendiri agar isi layar optimal dengan ukuran yang kecil. Biarpun semakin lama saya–secara pribadi merasakan interface Ubuntu semakin condong ke Mac yang dimulai ketika terjadi peralihan tombol min/maximize ke sisi kiri jendela. Hanya Shuttleworth-lah yang tahu šŸ™‚

Agave: A Colorscheme Designer

Agave adalah tool pembangkit palet warna yang dapat digunakan untukĀ  menentukan tema/skema warna desktop, desain situs web, ikon, dan banyak lagi. Alat ini menyederhanakan proses memilih warna dengan membuat palet berdasarkan pemilihan warna awal sesuai dengan aturan yang dipilih dan ‘selera’ warna yang diharapkan.

Penentuan warna dasar tidak memerlukan pengetahuan yang kompleks: yang perlu kita lakukan adalah memilih warna dari grid yang tersedia di bagian bawah, dan Agave akan menghasilkan warna-warna pelengkapnya.

Pemilihan warna dasar juga dapat dilakukan dengan ‘mengambil’ dari sebarang area di layar menggunakan pick-a-color tool atau (jika kita sudah mengetahuinya) dengan mengisikan kode RGB warna dasar tersebut. Komposisi warna yang dihasilkan dapat di ekspor dalam bentuk angka heksadesimal, RGB, dan HSV untuk digunakan dalam berbagai keperluan seperti GIMP, CSS, atau implementasi lainnya.

Agave bahkan dapat menghasilkan palet acak yang atraktif jika kita tidak memiliki ide mengenai warna dasar ini. Segera setelah kita menemukan kombinasi warna yang kita sukai, kita dapat dengan mudah menyesuaikan dengan membuat lebih terang, lebih gelap, atau mengubah tingkat saturasinya. Hasil yang diperoleh dapat disimpan sebagai pilihan warna favorit agar dapat kita temukan dengan mudah di lain waktu, atau mengekspornya menjadi sebuah file.

Tertarik? Instalasi Agave dapat dengan mudah kita lakukan dengan Ubuntu Software Center atau bermain sudo-sudo-an di Terminal.

Icip-icip Ubuntu Lucid Lynx 10.04 LTS

Ubuntu 10.04 Lucid Lynx tampil dengan beberapa pembaruan dengan pendahulunya Karmic Koala 9.10: kernel 2.6.32 updated, GNOME 2.29, browser Firefox 3.6, dan OpenOffice 3.2.

Kernel 2.6.32 updated mengalami banyak peningkatan kinerja, selain itu, si kucing Lucid ini telah menghilangkan Hardware Abstraction Layer sehingga proses booting jauh lebih cepat dibanding versi pendahulunya; termasuk ketika dibangunkan dari modus Suspend.

Rilis terakhir ini mengganti tema warna Karmic Koala 9.10 yang ‘bau-tanah’ menjadi keunguan (Aubergine/Grey) kemilau a la Mac termasuk penyegaran pada ikon-ikonnya. Nah… ini yang pertama kali terasa, ke-kikuk-an menemukan tombol minimize/maximize, close yang telah dipindahkan ke sudut kiri atas. Bagi pengguna yang biasa bermain dengan Windows akan mengalami keterkejutan sesaat, bahkan yang sudah biasa menggunakan Ubuntu-pun juga akan sedikit kerepotan. Biarpun diprotes sana-sini, Canonical rupanya sudah berketetapan hati dengan keputusan pemindahan tombol-tombol itu.

Firefox 3.6 yang disertakan, ketika dibuka langsung membawa kita ke mesin pencari Yahoo! bukannya Google seperti sebelum-sebelumnya, agak aneh; tapi jangan khawatir, ini dapat dengan mudah kita ubah jika sudah terbiasa dengan Google.

Sosialita jejaring sosial maya akan dimanjakan dengan Gwibber, katanya (belum nyobain yang satu ini) telah diintegrasikan dengan layanan microblogging Twitter dan Facebook, dan berintegrasi penuh dengan layanan ngobrol Emphaty. Btw, Emphaty ini sekarang juga mendukungĀ  obrolan lewat Facebook (fitur ini bisa dipakai di UAD gak ya…)

Beberapa tampilan dapat di lihat di blog.uad.ac.id.

Instalasi VideoLAN (VLC) di Karmic Koala

Screenshot

VideoLAN (VLC) adalah program yang cukup handal memutar berbagai format video, yang berjalan di berbagai platform. Dan lebih dari itu, ia FREE dan ternyata jalan baik di Ubuntu 9.10 Karmic Koala. Installasi VLC di Ubuntu cukup simpel dan mudah. Ini dia caranya.

Buka jendela (maaf, terpaksa pakai kata jendela) Terminal, ketikkan perintah:

sudo apt-get install vlc

Kita akan diminta password, berikutnya apt-get akan men-download dan melakukan installasi VLC. VLC dapat kita temukan di menu Applications > Sound & Video > VLC Media Player.

Untuk menambahkan plugin VLC di Firefox juga mudah, ini dia:

sudo apt-get install vlc vlc-plugin-* mozilla-plugin-vlc

setelah selesai, cek di Firefox (menu Tools > Add-ons. Harusnya di kotak dialog Add-ons sudah muncul VLC plugins terdaftar di sana.

XAMPP on USB FlashDrive

Resource sharing secara ekonomis menguntungkan karena cukup disediakan satu fasilitas untuk ‘rame-rame’. Nah… digunakan rame-rame ini yang seringkali menimbulkan masalah. Banyak orang banyak keinginan, belum lagi ada orang-orang kreatif yang tidak terakomodasi sehingga menggunakan resource berlebihan yang berdampak pada adanya ‘gangguan’ orang lain.

Dapat dipahami jika kemudian, pengelola memasang setelan dasar yang dibekukan agar perubahan-perubahan dikembalikan ke setelan asal setelah di-nyalaulang-kan.

Untuk keperluan latihan (praktik) yang membutuhkan akses read-write penuh ke webserver jadi terganggu dengan setelan ‘beku’ ini. Portabilitas menjadi solusi, setelah diskusi dengan kawan-kawan mahasiswa lahirlah ide untuk menginstall webserver lokal pada flash drive. Read More →