Selamat Jalan Steve Jobs…

“Apple has lost a visionary and creative genius, and the world has lost an amazing human being. Those of us who have been fortunate enough to know and work with Steve have lost a dear friend and an inspiring mentor. Steve leaves behind a company that only he could have built, and his spirit will forever be the foundation of Apple.” —Tim Cook

Kita adalah Apa yang Kita Pikirkan

Judul dan tulisan ini saya adaptasi apa adanya dari artikel Kompas (13/2) yang ditulis Sawitri Supardi Sadarjoen di rubrik konsultasi psikologi–rubrik yang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Dulu rubrik ini diasuh oleh Leila Ch. Budiman yang saya selalu tertegun dengan analisis psikologisnya bahkan untuk hal yang tampak remeh-temeh.

Betapa tidak mungkin kita tidak berhadapan dengan permasalahan, apalagi kita memutuskan untuk hidup bersosialisasi bersama dengan orang lain dalam keluarga, masyarakat, lingkungan kerja dan lainnya. Konflik muncul manakala terjadi perbedaan pandangan satu dengan yang lain. Eskalasi permasalahan yang muncul semakin hari semakin terasa rumit. Sawitri menyebutkan bahwa dalam kondisi seperti ini kita membutuhkan resiliensi, daya kepegasan mental. Ini sebentuk ketrampilan dalam menyiasati kehidupan ini. Yaa… ketrampilan, kemahiran menjalani atas sesuatu pemahaman.

Salah satu ketrampilan dasar itu adalah mengenai konsep ABC yang sebenarnya telah ada dan berfungsi dalam diri kita. Ketrampilan ini akan memperkaya prasangka sedemikian rupa sehingga kita dapat memahami permasalahan aktual dengan daya kepegasan minimal dalam menyiasati problem aktual yang sedang kita hadapi.

Saat emosi perilaku kita terpicu oleh cara kita menginterpretasi permasalahan yang kita hadapi dan bukan karena “permasalahan” itu sendiri. Konsep ABC ini kita manfaatkan untuk mendeteksi pikiran-pikiran kita saat menghadapi kesulitan dan memahami efek reaksi negatif yang mungkin muncul dari apa yang sesungguhnya kita pikirkan.

ABC; A adalah kependekan dari adversity, kesulitan yang kita temui. B adalah believe, artinya keyakinan, dan C adalah consequences, konsekuensi dari A dan B, dalam hal ini ungkapan emosional. Disinilah makna kita adalah apa yang kita pikirkan.

“Saat pulang kerja, kita melihat ada handuk basah di atas tempat tidur diletakkan suami kita, padahal sudah berulangkali kita mengingatkan untuk menempatkan handuk basah setelah mandi di ember cucian di belakang”. “Kita marah sekali, dan saat ditanya mengapa marah, kita langsung mengangkat tangan dengan telunjuk ke arah handuk basah di atas kasur”.

Kadang saya heran, mengapa untuk hal sepele seperti itu dapat membuat seorang istri marah sedemikian besar. A dalam hal ini adalah handuk basah yang berserak di kasur. Handuk basah tersebut yang mengakibatkan kemarahan besar tersebut, yakni C. Artinya hubungan A -> C lah yang mendominiasi relasi ini; dikarenakan handuk basah yang tergeletak di kasur maka tersulutlah kemarahan besar tersebut.

Pertanyaannya: dimana B? Berdasarkan konsep ABC seharusnya relasi itu berhubungan dalam rangkaian A -> B -> C. Sangat boleh jadi B itu adalah perasaan sangat diabaikan. Artinya: A (handuk basah) -> B (perasaan sangat diabaikan) -> C (kemarahan). Jadi sesungguhnya C (kemarahan tak-terkira) itu disulut oleh B (perasaan sangat diabaikan), bukan A (handuk basah).

Kemarahan tak terkendali yang diakibatkan handuk basah itu merupakan gejala menurunnya kepegasan mental. Kemarahan tersebut dapat merembet menjadi kejengkelan balik berkelanjutan.

Banyak peristiwa kecil lainnya, di rumah, di masyarakat, di kantor, di jalan dan tempat-tempat kita bersosialisasi lain yang sering memicu kemarahan kita. Hal ini disebabkan kebiasaan kita untuk menilai reaksi emosi kita sebagai konsekuensi langsung dari peristiwa yang menyulitkan. Dari contoh di atas, tampak dengan nyata bahwa peran B (keyakinan, pikiran, interpretasi)-lah yang justru membuat kita menjadi sangat emosional.

Duduk Diantara Dua Sujud

Dhuhur Senin (1/11) di Masjid Darunnajah terasa istimewa, keistimewaan yang sering saya tunggu-tunggu karena Prof. Mursyidi yang menjadi imam, selalu mengawali dengan renungan yang sederhana tetapi sering kita lalaikan.

“Ingatlah bahwa dalam duduk diantara dua sujud kita selalu membaca doa robbigfirli, warhamni, wajburni,… warzuqni,…” kata beliau, “kita memohon kepada Allah untuk antara lain karuniakanlah rizqi kepada kami. Khusus untuk adik-adik mahasiswa, rizki itu dapat saja berupa nilai yang baik; karenanya kita tidak perlu mengulang kembali.”

Beliau juga mengingatkan untuk sadar dengan sepenuh-hati ketika melafalkan doa-doa tersebut (tentu juga bacaan doa-doa yang lain, bukankah bacaan sholat itu adalah doa). Itulah makna khusyuk. Betapa sering kita sholat tetapi kita lalai bahwa kita sedang sholat sehingga lupa apa yang sedang kita baca. Tak jarang kita lupa sudah rokaat ke berapa, tahu-tahu saja sudah harus salam.

Semua berjalan tanpa bekas…

Saya jadi malu mendengarnya; maka kemudian sepanjang sholat saya berusaha ‘sadar’ dan tiba-tiba menjadi lebih fokus pada duduk diantara dua sujud saya. Subhanalloh… belum sampai Ashar, hari itu juga, ada seseorang yang sudah mulai saya lupakan menelepon saya dan menawari tindaklanjut pekerjaan senilai 25 juta!

Desain: Cara Berkilah dengan ‘Cerdas’

Sejak tahun 2005 Uni Eropa menetapkan larangan iklan berbahan tembakau pada media cetak, temasuk sponsorship pada event lintas negara.

Formula One (F1) termasuk yang kena getahnya, sehingga tim Ferrari yang disponsori oleh Marlboro ‘mengamankan’ kerjasama mereka dengan cara unik. Barcode yang tertera di punggung mobil Ferrari itu dulunya bertuliskan Marlboro yang distilisasi khas yang sudah akrab itu. Semenjak diberlakukannya ketentuan larangan iklan tembakau di media cetak, mereka mengganti tulisan dengan barcode tersebut.

Semua berjalan dengan mulus, persoalan teratasi.

Dalam nalar bisnis yang paling sederhana, sebuah unit bisnis memberikan sponsor tak-kurang dari $ 1 Billion untuk lima tahun, tidak mungkin diberikan secara cuma-cuma. Pastilah ada pertimbangan ‘balik-modal’.

Coba kita cermati lebih detail: mobil F1 bergerak dengan kecepatan rata-rata mencapai 200 km/jam. Pada kecepatan tersebut secara visual barcode tersebut akan tampak ‘menyatu’ sehingga impresi yang muncul di alam bawah sadar kita bisa tak terduga.

Dan inilah (simulasi visual) hasil akhirnya ketika mobil tersebut berjalan dengan kecepatan 200 km/jam.

Bagaimana menurut Anda?

Update! Mulai di Catalunya, Spanyol minggu lalu (15/05), Ferrari telah mengubah barcode di punggungnya dengan garis putih saja. Mereka bilang untuk mengakhiri perdebatan yang tak-perlu.

Ujian Buku Terbuka (?)

Mahasiswa: “Pak, apakah boleh membuka notebook?”

(Sejenak berpikir, sifat ujian buku terbuka. Revolusi buku telah sedemikian rupa berkembang sehingga buku tidak lagi dapat dipahami sebagai buku tercetak an sich. Jadi, sepontan saya jawab)

Saya: “Boleh…”

Sebenarnya saya agak ragu dengan jawaban saya. Layanan internet nirkabel memungkinkan satu mahasiswa dengan mahasiswa lain dapat berkomunikasi via chatting atau lainnya. Bahkan ketika tidak ada internet pun mereka masih bisa sms-an. Jadi tidak relevan jika ujian bersifat buku terbuka, tidak diperkenankan membuka komputer jinjing (note/netbook) hanya karena alasan khawatir akan terjadi komunikasi antarpeserta ujian.

Selain tidak ada batasan secara spesifik yang dituliskan pada sifat ujian, jadi buku dalam berbagai bentuk: tercetak, selebaran, notebook, netbook, dan buk-buk lainnya.

Pada mulanya saya berpikir bahwa si mahasiswa akan membuka-buka file-file catatan, presentasi si dosen, atau material lainnya. Ternyata si mahasiswa membuka mesin pencari: mencoba bertanya pada Google. Cerdik juga rupanya, jangan-jangan si dosen menemukan soal di Google, jadi klop kan jika nemu :))

Soal dinyatakan terbuka, berarti soal-soal sudah dipertimbangkan sedemikian rupa tidak sekedar dijawab dengan menemukan jawaban di lembar-lembar catatan. Ada ketrampilan dan kemampuan analitis (analytical skill) yang hendak diujikan si dosen. Saat ujian bukanlah saat yang tepat untuk belajar. Saat ujian adalah saat menguji kemampuan diri seberapa dalam keterserapan materi pembelajaran.

Ketika ujian, kita masih disibukkan dengan memahami konsep-konsep dasar, pastilah kita akan kehabisan waktu. Waktu menjadi salah satu batasan ujian yang juga harus ditepati. Jadi belajar sebelum ujian, apapun sifat ujiannya menjadi kebutuhan.

Idul Adha 1429 dan Hujan

Maaf, judulnya ngaco. Asal njeplak. Ini bukan tulisan mengenai kurban, bukan juga hikmah dibaliknya. Ini soal perasaan (karena berpengaruh pada kekhusyukan)

Idul Adha 1429 jatuh pada bulan Desember, masa musim penghujan. Dalam rangka syiar sholat, Id dilaksanakan di tanah lapang, walaupun tanpa mengurangi nilai syiarnya sebagian jamaah lain saudaraku warga Nahdiyin berjamaah di masjid-masjib. Persoalan muncul ketika pagi itu, 8 Desember 2008, Yogyakarta mendung.

Jamaah sholat Id dijadwalkan mulai jam 6.30.¬†Sesaat menjelang 6.30 mendung semakin gelap, setidaknya di lapangan saya mengikuti sholat Id bersama anak-anak dan istri, juga simbah dan om+buliknya anak-anak, rintik air mulai berjatuhan. Ketika sholat sudah berlangsung, Read More →