Soto Kudus Gadjah Mada

Jenis masakan inilah yang memiliki varian sangat banyak, setiap daerah memiliki jenis soto khas yang diperkaya dengan nuansa lokal; namun semuanya memiliki rasa soto yang khas.

Soto ini sangat bersejarah bagi saya, semacam makanan kenangan lah…

Di Jogja soto kudus telah dimodifikasi secara khas, karena di Kudus soto ini menggunakan daging kerbau.

Disini letak menariknya: di Kudus waktu itu cukup banyak warga beragama Hindu sehingga sapi yang dimulaikan oleh penganut Hindu, oleh orang Islam setempat tidak dijadikan sebagai bahan konsumsi. Toleransi yang menarik sampai ke urusan lidah. Sebagai gantinya, warga setempat menyembelih kerbau sebagai bahan makanan, termasuk soto kudus ini.

Daging kerbau di Jogja tidak begitu populer, mungkin melihat lenguhan dan legam+tebal kulitnya jadi enggan menyantap daging jenis ini. Padahal konon rasanya tidak kalah enak dibanding daging sapi. Untuk itu, soto kudus yang ada di Jogja menggunakan daging ayam. Beberapa malah menyatakan dengan gagah “asli ayam kampung”.

Soto ini selalu disajikan dengan makanan pelangkap: sate kerang, perkedal, tempe (mendoan), dll. Plus jeruk nipis yang disajikan tersendiri pada piring kecil. Eksotis.

Sajian pelengkap inilah yang menggugah selera, tetapi sekaligus yang sering membobol kantong. Sotonya sih… gak seberapa, bahkan soto ini selalu disajikan pada mangkuk kecil. Jadi siap-siap saja pesan dua sekaligus jika tidak ingin merasa hanya sekedar pengganjal perut. Rasanya… jangan tanya: enak banget, khas dengan taburan bawang putih goreng.