Kita adalah Apa yang Kita Pikirkan

Judul dan tulisan ini saya adaptasi apa adanya dari artikel Kompas (13/2) yang ditulis Sawitri Supardi Sadarjoen di rubrik konsultasi psikologi–rubrik yang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Dulu rubrik ini diasuh oleh Leila Ch. Budiman yang saya selalu tertegun dengan analisis psikologisnya bahkan untuk hal yang tampak remeh-temeh.

Betapa tidak mungkin kita tidak berhadapan dengan permasalahan, apalagi kita memutuskan untuk hidup bersosialisasi bersama dengan orang lain dalam keluarga, masyarakat, lingkungan kerja dan lainnya. Konflik muncul manakala terjadi perbedaan pandangan satu dengan yang lain. Eskalasi permasalahan yang muncul semakin hari semakin terasa rumit. Sawitri menyebutkan bahwa dalam kondisi seperti ini kita membutuhkan resiliensi, daya kepegasan mental. Ini sebentuk ketrampilan dalam menyiasati kehidupan ini. Yaa… ketrampilan, kemahiran menjalani atas sesuatu pemahaman.

Salah satu ketrampilan dasar itu adalah mengenai konsep ABC yang sebenarnya telah ada dan berfungsi dalam diri kita. Ketrampilan ini akan memperkaya prasangka sedemikian rupa sehingga kita dapat memahami permasalahan aktual dengan daya kepegasan minimal dalam menyiasati problem aktual yang sedang kita hadapi.

Saat emosi perilaku kita terpicu oleh cara kita menginterpretasi permasalahan yang kita hadapi dan bukan karena “permasalahan” itu sendiri. Konsep ABC ini kita manfaatkan untuk mendeteksi pikiran-pikiran kita saat menghadapi kesulitan dan memahami efek reaksi negatif yang mungkin muncul dari apa yang sesungguhnya kita pikirkan.

ABC; A adalah kependekan dariĀ adversity, kesulitan yang kita temui. B adalah believe, artinya keyakinan, dan C adalah consequences, konsekuensi dari A dan B, dalam hal ini ungkapan emosional. Disinilah makna kita adalah apa yang kita pikirkan.

“Saat pulang kerja, kita melihat ada handuk basah di atas tempat tidur diletakkan suami kita, padahal sudah berulangkali kita mengingatkan untuk menempatkan handuk basah setelah mandi di ember cucian di belakang”. “Kita marah sekali, dan saat ditanya mengapa marah, kita langsung mengangkat tangan dengan telunjuk ke arah handuk basah di atas kasur”.

Kadang saya heran, mengapa untuk hal sepele seperti itu dapat membuat seorang istri marah sedemikian besar. A dalam hal ini adalah handuk basah yang berserak di kasur. Handuk basah tersebut yang mengakibatkan kemarahan besar tersebut, yakni C. Artinya hubungan A -> C lah yang mendominiasi relasi ini; dikarenakan handuk basah yang tergeletak di kasur maka tersulutlah kemarahan besar tersebut.

Pertanyaannya: dimana B? Berdasarkan konsep ABC seharusnya relasi itu berhubungan dalam rangkaian A -> B -> C. Sangat boleh jadi B itu adalah perasaan sangat diabaikan. Artinya: A (handuk basah) -> B (perasaan sangat diabaikan) -> C (kemarahan). Jadi sesungguhnya C (kemarahan tak-terkira) itu disulut oleh B (perasaan sangat diabaikan), bukan A (handuk basah).

Kemarahan tak terkendali yang diakibatkan handuk basah itu merupakan gejala menurunnya kepegasan mental. Kemarahan tersebut dapat merembet menjadi kejengkelan balik berkelanjutan.

Banyak peristiwa kecil lainnya, di rumah, di masyarakat, di kantor, di jalan dan tempat-tempat kita bersosialisasi lain yang sering memicu kemarahan kita. Hal ini disebabkan kebiasaan kita untuk menilai reaksi emosi kita sebagai konsekuensi langsung dari peristiwa yang menyulitkan. Dari contoh di atas, tampak dengan nyata bahwa peran B (keyakinan, pikiran, interpretasi)-lah yang justru membuat kita menjadi sangat emosional.