Ujian Buku Terbuka (?)

Mahasiswa: “Pak, apakah boleh membuka notebook?”

(Sejenak berpikir, sifat ujian buku terbuka. Revolusi buku telah sedemikian rupa berkembang sehingga buku tidak lagi dapat dipahami sebagai buku tercetak an sich. Jadi, sepontan saya jawab)

Saya: “Boleh…”

Sebenarnya saya agak ragu dengan jawaban saya. Layanan internet nirkabel memungkinkan satu mahasiswa dengan mahasiswa lain dapat berkomunikasi via chatting atau lainnya. Bahkan ketika tidak ada internet pun mereka masih bisa sms-an. Jadi tidak relevan jika ujian bersifat buku terbuka, tidak diperkenankan membuka komputer jinjing (note/netbook) hanya karena alasan khawatir akan terjadi komunikasi antarpeserta ujian.

Selain tidak ada batasan secara spesifik yang dituliskan pada sifat ujian, jadi buku dalam berbagai bentuk: tercetak, selebaran, notebook, netbook, dan buk-buk lainnya.

Pada mulanya saya berpikir bahwa si mahasiswa akan membuka-buka file-file catatan, presentasi si dosen, atau material lainnya. Ternyata si mahasiswa membuka mesin pencari: mencoba bertanya pada Google. Cerdik juga rupanya, jangan-jangan si dosen menemukan soal di Google, jadi klop kan jika nemu :))

Soal dinyatakan terbuka, berarti soal-soal sudah dipertimbangkan sedemikian rupa tidak sekedar dijawab dengan menemukan jawaban di lembar-lembar catatan. Ada ketrampilan dan kemampuan analitis (analytical skill) yang hendak diujikan si dosen. Saat ujian bukanlah saat yang tepat untuk belajar. Saat ujian adalah saat menguji kemampuan diri seberapa dalam keterserapan materi pembelajaran.

Ketika ujian, kita masih disibukkan dengan memahami konsep-konsep dasar, pastilah kita akan kehabisan waktu. Waktu menjadi salah satu batasan ujian yang juga harus ditepati. Jadi belajar sebelum ujian, apapun sifat ujiannya menjadi kebutuhan.