Tantangan Konselor di Era Globalisasi

24 Jul

 

  1. Latar Belakang

Saat ini, kecanggihan teknologi informasi telah memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang cepat tanpa terhambat oleh batas ruang dan waktu. Kemajuan suatu bangsa dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik masyarakat seperti ini dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Siapa yang menguasai pengetahuan maka ia akan mampu bersaing dalam era global. Oleh karena itu, setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan media seperti teknologi informasi dengan tujuan dapat bersaing dalam era global.

Selanjutnya dengan perkembangan tersebut maka menimbulkan masalah dan tantangan baru serta lebih berat bagi siswa / konseli. Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu:

(1) kecepatan (speed),

(2) kenyamanan (convinience),

(3) gelombang generasi (age wave),

(4) pilihan (choice),

(5) ragam gaya hidup (life style),

(6) kompetisi harga (discounting),

(7) pertambahan nilai (value added),

(8) pelayananan pelanggan (costumer service),

(9) teknologi sebagai andalan (techno age),

(10) jaminan mutu (quality control).

Menurut Robert B Tucker kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning, learning revolutionmegabrainquantum learningvalue clarificationlearning than teachingtransformation of knowledgequantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process approachForfolio evaluationschool/community based managementschool based quality improvementlife skills, dan competency based curriculum.

Bimbingan dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (siswa), dapat dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Saat ini layanan tersebut semakin berkembang, tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tapi juga bisa dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada. Tujuannya adalah menjadikan proses bimbingan dan konsling lebih menarik, interaktif, dan inovatif tidak terhambat oleh ruang dan waktu, tetapi tetap memperhatikan azas-azas dan kode etik dalam bimbingan dan konseling. Selanjutnya inilah beberapa inovasi dalam memberikan layanan Bimbingan Konseling pada siswa SMK.

  1. Pengertian inovasi layanan pada Bimbingan dan Konseling

Inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis,metode,cara,barang-barang buatan manusia yang diamati sebagai suatu hal yang benar-benar baru bagi seseorang atau kelompok (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu permasalahan.

Inovasi dalam bidang BK adalah suatu ide,metode, cara atau barang yang dibuat oleh guru bimbingan dan konseling yang diamati sebagai suatu hal yang benar-benar baru yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah dalam bidang bimbingan dan konseling.

Tentang hal ini, Fullan & Stiegelbauer (1991) mengemukakan bahwa setiap inovasi seharusnya terdiri dari tiga elemen intrinsik, sebagai berikut:

  1. Bentuk (form), bentuk fisik yang dapat diamati secara langsung dan substansi yang terkandung dari sebuah inovasi. Misalnya, bentuk dari pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif dapat dipahami sebagai layanan bimbingan dan konseling yang terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah dengan komponen program yang dirancang secara utuh dan saling berkaitan—layanan dasar bimbingan, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem.
  2. Fungsi (function), kontribusi atau manfaat yang dihasilkan dari inovasi terhadap kehidupan anggota dalam sistem sosial. Misalnya fungsi yang diperoleh dari pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif ini adalah memfasilitasi pencapaian tugas-tugas perkembangan konseli yang memandirikan.
  3. Makna (meaning), intensitas manfaat yang diberikan inovasi terhadap pengguna inovasi sehingga dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan individu dalam sistem sosial. Misalnya, bahwa melalui pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif dapat mendorong aksesibilitas semua peserta didik dan pihak-pihak terkait kepala sekolah, guru, staf administrasi sekolah, orang tua siswa, dan profesi lainnya untuk terlibat dalam proses bimbingan dan konseling.
  1. Inovasi inovasi layanan Bimbingan & Konseling         
  2. Layanan Informasi  Bimbingan Konseling berbasis IT

Bimbingan dan Konseling adalah bagian dari sekolah yang membantu siswa mengatasi segala permasalahan yang dihadapi dalam proses studi untuk mencapai perkembangan yang optimal. Segala upaya dapat dilakukan untuk menjalin hubungan emosi antara guru pembimbing dengan siswa. Upaya ini dilakukan dengan merealisasikan program layanan yang sudah terkonsep sebagai empat komponen layanan pada bimbingan dan konseling. Salah satunya dari empat komponen layanan tersebut adalah Layanan Perencanaan Individual.

Tujuan layanan perencanaan individual ini  adalah agar siswa/konseli bisa membuat, memonitor, dan mengelola rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri melalui media online / blog BK sekolah.

Melalui layanan perencanaan individual, diharapkan siswa dapat :

  1. Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan atas    pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakatnya.
  2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya.
  3. Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.                        
  4. Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.      

Sebagian besar tujuan dari layanan tersebut diatas cenderung bersifat informatif, sehingga perlu dibangun sebuah Layanan Informasi berbasis web yang dinamis dengan content yang menarik dan mudah di atur, yaitu dengan menggunakan Content Management System yang mudah dioperasikan. Bahkan dapat digunakan oleh pengguna yang tidak mengerti tentang bahasa pemrograman .

Sistem ini diciptakan untuk membangun layanan informasi sekolah. Sistem ini memiliki ukuran yang kecil dan mudah untuk di konfigurasikan secara manual pada local server atau server- server gratis yang ada di internet sehingga akan lebih ekonomis.Sehingga sangat membantu konselor sekolah, tanpa memerlukan bantuan tenaga ahli.

  1. Konseling Online / Cyber Counseling

Cyber Counseling atau konseling lewat dunia maya adalah Konseling online dengan Email atau lewat inbox Facebook .Perkembangan alat komunikasi elektronik yang sangat pesat, makin canggih, dan mudah dalam pengoperasiannya menuntut konselor untuk lebih aktif dan proaktif mengikutinya agar tidak tertinggal dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling sesuai dengan era ini. Salah satu tindakan pengembangan atau inovasi yang dapat dilakukan oleh konselor adalah dengan memberikan layanan konseling melalui e-mail. Konseling dengan cara ini sangat efektif terutama bagi konselor di sekolah yang tidak memiliki  pertemuan tatap muka untuk layanan BK secara rutin terjadwal pada setiap minggu.

Konseling melalui e-mail tidak sulit/rumit dilakukan, karena hampir semua konselor sudah mahir dalam memanfaatkan teknologi informasi dan hampir semua sekolah sudah memiliki website, fasilitas laboratorium komputer, dan lain-lain terkait dengan teknologi informasi. Konselor tinggal mengkomunikasikan program BK yang direncanakan sehubungan dengan kegiatan layanan konseling melalui e-mail kepada pihak terkait di sekolah agar dapat terlaksana dengan lancar. Hal ini penting, karena juga merupakan salah satu kewajiban sekolah dalam memfasilitasi program dimaksud (dukungan sistem).

Yang terutama harus diperhatikan dalam pelaksanaan layanan konseling melalui e-mail bagi konselor dan konseli adalah:

  1. memiliki alamat e-mail;
  2. ada fasilitas komputer/laptop/netbook;
  3. terhubung dengan internet (modem, wifi, hot spot, smartphone, android, warnet).
  1. Bursa Kerja Khusus Berbasis online /lewat Facebook atau Blog

Perkembangan  telekomunikasi  dan informatika  saat  ini  sangat  cepat,  berbagai infomasi  dapat  diperoleh  dengan  mudah. Penggunaan  komputer  secara  online  sebagai sarana  untuk  memperoleh  informasi  tersebut sudah  tidak  asing  lagi  saat  ini. Pengiriman  dan pengambilan  informasi dapat dilakukan  dengan cepat melalui  sistem  komputer  yang  terhubung satu  dengan  yang  lain  dalam  satu  jaringan. Perkembangan  jaringan  dari  yang  semula sekedar  server  penyedia  data  statis  menjadi server  yang  dapat  memberikan  informasi  yang bersifat waktu nyata (real time).

Penyampaian  informasi  lowongan  kerja  sangatlah  penting  untuk  dapat  diketahui  oleh berbagai pihak  terutama oleh para pencari kerja. Melihat kondisi yang ada saat ini Penulis mencoba merancang  suatu Aplikasi Bursakerja  secara  online untuk memenuhi  kebutuhan  akan  penyampaian informasi lowongan kerja melalui media internet / facebook (online).

Selama  ini  dalam proses  Bursa  Kerja  (lowongan  kerja)  yang dilakukan oleh pihak perusahaan untuk mencari karyawan  kebanyakan  melalui  media  massa yang  seringkali  terbatas  dalam  hal  waktu penyampaian berita.

Bursa  Kerja secara  online mengacu  pada  tingkat  kebutuhan akan  lowongan  pekerjaan  yang  dapat  secara cepat  diterima  maupun  dikirim  oleh  pihak perusahaan maupun pihak pencari kerja. Banyak sekali  mereka  yang  telah  lulus  bersaing  untuk memperoleh  suatu pekerjaan  yang  sesuai  dengan bidangnya  dan  diharapkan  lewat  aplikasi  yang dibuat ini, para pencari kerja dapat dengan mudah dan  cepat  untuk mengakses  lowongan  pekerjaan yang  diinginkan. 

  1. Sinema Konseling

            Sinema konseling adalah suatu konseling kreatif, di mana seorang konselor menggunakan film atau video sebagai alat konseling. Menurut Solomon (2011) sinema konseling adalah suatu metode dengan mengunakan film dalam sebuah konseling yang memiliki positif efek pada orang kecuali pada seseorang dengan gangguan psikotik. Lebih luas lagi diungkapkan oleh Solomon dalam Anindito (2008) bahwa masalah yang bisa dikonseling adalah motivasi, hubungan, depresi. 

            Dalam sinema konseling, subyek terdiri dari 5-8 konseli dan berlangsung kurang lebih 90 menit dan didokumentasikan dengan menggunakan variabel yang terukur (Demir, 2007). Sinema konseling merupakan perkembangan dari bibliokonseling. Bibliokonseling merupakan suatu konseling yang mana menggunakan sumber bacaan untuk membantu kliennya, (Demir, 2007). Menurut Ulus dalam Demir (2007), sinema konseling lebih menarik daripada bibliokonseling, selain itu sinema konseling lebih mudah daripada bibliokonseling karena menonton film lebih mudah daripada membaca buku. Menonton film membutuhkan waktu lebih singkat dibandingkan membaca buku.

            Dinilai dari hasil, proses konseling menggunakan film lebih cepat dibandingkan menggunakan bahan bacaan. Sejalan dengan yang diungkapkan Mc Conahey (2003), remaja akan lebih tertarik dan mudah ketika mereka melihat film pada daripada membaca.  Woltz (2004) mengungkapkan bahwa sinema konseling juga merupakan konseling yang spesifik dimana konselor bukan hanya menayangkan film, namun juga memilih kesesuaian film dengan tujuan dalam konseling. Sedangkan menurut Berg-Cross, Jenning, & Baruch dalam Derme (2000) sinema konseling adalah sebuah konseling spesifik untuk melihat konseli secara individual atau kelompok, yang mana menggunakan film sebagai sarana mencapai keuntungan konseling

            Dari beberapa definisi mengenai sinema konseling menurut beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa sinema konseling adalah sebuah metode dalam konseling yang menggunakan film atau video bisa dilakukan secara individual maupun kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan menghasilkan efek positif kecuali pada seseorang dengan gangguan psikotik.

           Prosedural dalam pelaksanaan sinema konseling tidak hanya penayangan film, namun terdapat serangkaian kegiatan yaitu : a) penayangan film, b) refleksi isi film, c) refleksi diri, d) pengembangan komitmen, e) uji komitmen, dan f) refleksi pengalaman. Film atau video yang digunakan dalam sinema konseling memiliki durasi paling lama 60 menit, melalui proses editing dimana akan dilakukan pemilihan bagian mana yang layak ditonton konseli dan bagian mana yang tidak layak. Alur cerita film atau video hendaknya yang disukai oleh konseli dan memilih tokoh yang mana menarik dan sesuai dengan usia perkembangan konseli. Hal ini diharapkan akan lebih mempermudah penyerapan oleh konseli terhadap pesan yang hendak disampaikan melalui film. Serangkaian kegiatan yang telah disampaiakan diatas sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dari konseling. Prosedural yang sistematis akan mendukung kesuksesan pelaksanaan sinema konseling.

Manfaat Sinema Konseling

Sinema konseling memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Tertawa bekerja sebagai obat. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tawa dapat meningkatan aktivitas sistem kekebalan. Tertawa juga dapat mengurangi hormon stres, yang menyempitkan pembuluh darah dan menekan aktivitas hormon (epinefrin dan dopamin). Dalam keadaan bermasalah, film lucu dapat menjadi alat yang ampuh untuk mendapatkan sedikit ketenangan.
  2. Menangis sebagai katarsis emosional, sebuah film yang membuat seseorang menangis dapat merangsang pelepasan emosional yang terpendam, selanjutnya akan menimbulkan perasaan lega dan dapat mengangkat semangat untuk membuka sebuah perspektif baru.
  3. Mendapatkan harapan dan semangat, tidak ada film yang dengan sendirinya dapat membalikkan pandangan dunia yang negatif. Tapi jika seseorang berada pada perasaan tidak berdaya dan putus asa, film yang di mulai dengan cerita mengenai keputus asaan dan berakhir pada kemenangan dapat memberikan harapan. Film akan membawa seseorang seolah-olah berada didalamnya, merasakan seperti pada cerita sehingga dapat memunculkan sikap optimis dan keberanian dalam mengubah situasi pada diri.
  4. Mempertanyakan keyakinan negatif tentang diri dan menemukan kembali kekuatan diri. Seseorang mungkin memegang keyakinan negatif tentang dirinya, dan tidak menyadari kekuatan pada diri dan cara mendapatkannya. Dengan merefleksikan cerita dan karakter yang terdapat dalam film seseorang dapat menemukan kekuatan yang sebenarnya ada dalam diri, integrasi kehidupan tidak nyata ke dalam kehidupan nyata dapat terjadi ketika seseorang bercermin pada film.
  5. Memperbaiki komunikasi, film dapat digunakan sebagai sarana dalam memperbaiki  komunikasi yang kurang baik antara teman atau pasangan. Dengan menonton film bersama-sama dan menjelaskan kepada pasangan atau teman mengenai alasan memilih film tertentu, dapat memungkinkan masuk ke percakapan yang lebih produktif. Film berfungsi sebagai metafora yang mungkin lebih akurat untuk mewakili perasaan dan ide-ide dari pada kata-kata dari seseorang yang kesulitan dalam perangkaiannya.
  6. Peer Counselor / Konselor Sebaya

Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985) mengemukakan: “peer counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others”(konseling teman sebaya dapat diartikan sebagai jenis bantuan interpersonal yang dilakukan oleh nonprofesional untuk membantu teman yang lainnya ). Lebih lanjut dijelaskan bahwa: “peer counseling includes one-to-one helping relationships, group leadership, discussion leadership, advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal human helping or assisting nature”(konseling teman sebaya meliputi hubungan bantuan individu ke individu, kepemimpinan kelompok, kepemimpinan dalam diskusi, pemberian nasehat, tutorial, dan semua aktifitas hubungan interpersonal manusia yang saling membantu ).

Dengan sederhana dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya (biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama) yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka yang menjadi konselor sebaya bukanlah seorang yang profesional di bidang konseling tapi mereka diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan konselor profesional. Erhamwilda,(2009).

            Dengan adanya layanan peer counseling berarti sekolah menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional dalam membantu menyelesaikan masalah teman-temannya. Para siswa calon peer counselor akan mendapatkan serangkaian pelatihan yang memadai untuk jadi konselor sebaya, sehingga diharapkan meningkatkan kemampuan siswa (yang dilatih sebagai peer-conselor dan konseli yang dibimbingnya) dalam menghadapi masalah.

  1. Layanan Bimbingan Konseling untuk Inklusif/ siswa berkebutuhan khusus

Layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus saat ini mengalami perubahan paradigma, dari eksklusif menjadi inklusif. Perubahan ini memberikan warna baru terhadap kebijakan, dimana layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, tidak mesti dilaksanakan di SLB, akan tetapi dapat dilaksanakan di sekolah inklusi. Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil, 1994).

Nyatanya upaya pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus melalui layanan pendidikan di sekolah inklusi tidak cukup melalui instructional approach. Hal tersebut proses perkembangan anak berkebutuhan khusus untuk menjadi (on becomening), relatif dihadapkan pada hambatan (barrier of development), baik yang bersumber dari dalam diri individu anak berkebutuhan khusus, maupun bersumber dari lingkungan perkembangannya. Kenyataan inilah yang memberikan landasan empirik akan pentingnya Layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus.

Pendekatan komprehensif pelayanan bimbingan dan konseling pada siswa inklusif memberikan kerangka acuan pelayanan bimbingan dan konseling harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Layanan bimbingan dan konseling didesain secara utuh dengan memandang konseli sebagai sosok individu yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikolgis, sosial, dan spiritual). Konsep ini sejalan dengan visi Departemen Pendidikan Nasional dalam memandang sosok peserta didik yang hendak dicapai melalui ikhtiar pendidikan, yaitu “menjadikan insan indonesia yang cerdas dan kompetitif” atau dengan kata lain “menjadi insan kamil atau paripurna” (Depdiknas, 2005).
  2. Ditinjau dari manajemen implementasi layanan, bahwa pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif, bercirikan integratif dengan program sekolah, berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait, memperluas peran konselor, ke dalam konsep “3K” yakni: konselor, konsultan, dan koordinator. Hal ini mengandung makna bahwa keberadaan program bimbingan dan konseling dan sosok konselor sekolah, tidak tampil sebagai sosok yang “eksklusif”, akan tetapi hadir sebagai komponen yang terintegratif dengan komponen persekolahan lainnya. Namun demikian inklusivisme layanan bimbingan dan konseling dan kinerja konselor, tetap memiliki ekspektasi dan konteks tugas yang unik dan profesional.
  3. Orientasi layanan bahwa pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif mengakses semua peserta didik. Hal ini merubah paradigma bimbingan dan konseling tradisional, dimana layanan bimbingan dan konseling diidentikan menanganai peserta didik yang bermasalah saja.

Memperhatikan esensi yang terkandung dalam pendekatan bimbingan dan konseling komprehensif sebagaimana dijelaskan di atas, maka dalam perspektif inovasi pendidikan, pendekatan komprehensif ini dapat dimakna sebagai sebuah inovasi dalam dunia bimbingan dan konseling.

  1. Penutup

Di era digital ini konselor harus senantiasa menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan bimbingan konseling, tentunya ditunjang oleh kompetensi yang memadai mengenai teknologi informasi. Teknologi informasi mampu menunjang pelayanan bimbingan konseling agar lebih efektif. Maka dari itu, konselor harus selalu meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi yang berkembang saat ini. Konselor akan selalu menjadi idola klien apabila selalu up to date. Karena pada dasarnya bimbingan adalah long life learning atau belajar sepanjang hayat.

Penyediaan infrastruktur harus ditingkatkan disetiap sekolah. Penyediaan perangkat teknologi informasi adalah hal yang mutlak dalam konseling melalui teknologi informasi, sehingga pelayanan bimbingan konseling akan berjalan efektif tanpa batas ruang dan waktu.

contoh dari artikel di atas, klik disini

drawing1

REFERENSI

Corey, Gerlald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. E. Koswara), Bandung : Refika

Demir (2005).Practical Counselling and Helping Skills. London: Sage Publications Ltd.

Dirjen PMPTK, 2007. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). Jakarta

Erhamwilda, (2009). Model Hipotetik Peer Counseling, Dengan Pendekatan Realitas Untuk      Siswa SLTA”  , Bandung : Nuansa

Gati, I. (1994, Sep-Oct). Computer-assisted career counseling: Dilemmas, problems, and possible solutions. Journal of Counseling & Development, 73(1), 51-73.

Gendler, Margaret E..1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan Publishing.

Judy A. Tindall & H. Dean Gray , Shernoff, Michael.2000. Cyber Counseling for Clien . Haworth Press

Rahman, A.(2009). Peran Pendidikan Inklusif Bagi anak berkelainan.Yogyakarta: Printa

Rose, R. dan Howley, M. (2007). The Practical Guide to Special Education Needs inn Inclusive Primary Classrooms. London: Paul Chapman Publishing.

Rogers, Everett.1983. Diffusion of Innovation. New York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co. Inc

Santrock,   J.W.   (2004).    Education     Psychology .    NewYork  : McGraw-Hill Company, Inc

Slavin, R.E. (2006). Education Psychology . Boston. Allyn and Bacon.

Smith, J. D. (2009). Inklusif Sekolah ramah untuk semua. Bandung: Nuansa.

Sudarman,Danin. 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Pustaka Setia: Bandung

Suherman, Uman. 2009. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bandung : Rizqi Press

Sumber : https://blog.uad.ac.id/ita1600001274/2017/07/20/artikel-tantangan-konselor-di-era-digital/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *