Penyebaran Virus Lokal Menjadi Tuan di Rumah Sendiri

Apa yang dicari pembuat virus lokal? Harta, popularitas, atau kepuasan diri mampu menciptakan virus yang lebih baik dari orang lain? Kalau harta jelas tidak karena membuat virus adalah tindakan melanggar hukum dan pembuat virus yang berani menunjukkan batang hidungnya pasti akan berurusan dengan pihak berwenang.

Popularitas, ego, dan kepuasan diri mungkin menjadi alasan utama pembuat virus melakukan usaha berhari-hari memutar otak menuliskan berbagai kode pemrograman yang mampu menyebarkan dirinya secara otomatis, tidak lupa memikirkan rekayasa sosial apa yang diselipkan pada program virus ciptaannya tersebut agar penerima virus tidak curiga atau bahkan secara sukarela menjalankan file virus tersebut.

Meskipun membuat virus bukan hal yang patut dibanggakan, de facto pada tahun 2006 virus lokal Indonesia berhasil mengambil alih tongkat kepemimpinan dari virus mancanegara sebagai virus yang paling banyak menyebar di Indonesia. Malahan, karena adanya kontribusi infeksi virus lokal, total infeksi virus di Indonesia mengalahkan infeksi Spyware, padahal kecenderungan akhir tahun 2005 menunjukkan gejala bahwa penyebaran Spyware akan mengalahkan virus. Ternyata hal ini tidak terjadi di Indonesia.

Fakta ini cukup mengejutkan dan secara tidak langsung menunjukkan kemampuan programmer Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitasnya tidak kalah dengan programmer luar negeri. Untuk kuantitas sudah tidak diragukan lagi karena jumlah penduduk Indonesia yang menduduki peringkat nomor empat di dunia. Jadi, 10 persen saja dari penduduk Indonesia (238 juta) melek internet sudah 4 kali lipat dari seluruh jumlah penduduk Singapura (4,3 juta).

Bukti bahwa virus lokal lebih mampu menyebarkan dirinya lebih dari baik virus mancanegara menunjukkan bahwa programmer Indonesia tahu bagaimana menciptakan virus yang tetap dapat menyebar dengan cepat, dengan memanfaatkan kondisi infrastruktur jaringan internet di Indonesia yang “lemot”.

Rekayasa sosial terhadap file bervirus pada awalnya hanya memalsukan Icon MS Word atau Icon Folder dan tak mengubah “Type” file sehingga pengguna komputer yang cermat akan mampu mengidentifikasi bahwa file atau folder palsu tersebut adalah virus yang menyamar dengan Icon MS Word atau Folder. Pada perkembangan terakhir, selain Icon file dipalsukan, virus juga mengganti “Type” file .exe (executable) menjadi File Folder sehingga pengguna komputer yang paling berhati-hati sekalipun akan terjebak untuk menjalankan file tersebut.

Melalui Flash Disk

Seperti kita ketahui, harga bandwidth di Indonesia termasuk paling mahal di dunia dan salah satu penyebabnya adalah kurang baiknya infrastruktur di Indonesia.

Padahal, koneksi internet zaman sekarang sudah merupakan keharusan, ibarat manusia membutuhkan listrik.

Harus jujur kita akui juga bahwa pendapatan per kapita Indonesia masih rendah dan penetrasi internet relatif masih rendah dibandingkan negara tetangga kita di ASEAN. Menurut informasi terakhir dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), total pengguna internet di Indonesia adalah 20 juta orang, sedangkan pelanggan internetnya hanya 6 juta orang.

Lalu, pertanyaannya, di mana ke-14 juta orang yang tidak berlangganan internet itu mengakses internet?

Jawabannya mudah, akses dari kantor, di rumah teman atau tetangga, dan satu lagi yang cukup menjamur karena murah meriah adalah akses internet dari warnet (warung internet). Lalu, di mana pengakses internet yang tidak berlangganan ini menyimpan datanya? Lima tahun lalu jawabannya adalah disket, sekarang ada satu media murah meriah yang mengalahkan penyebaran disket dan dimiliki hampir setiap pengakses internet, USB Flash Disk (UFD).

Rupanya pembuat virus lokal cukup jeli melihat kondisi Indonesia. Jika menyebarkan virus melalui e-mail seperti yang banyak dilakukan virus-virus impor, selain usahanya cukup keras karena harus membuat engine e-mail (smtp) sendiri, dampak dan penyebarannya tidak akan besar karena 14 juta pengakses internet Indonesia tidak memiliki account internet dan hanya mengakses internet melalui warnet.

Mengakses e-mail menggunakan browser (Web-based e-mail) relatif lebih aman dari virus e-mail dibandingkan dengan download e-mail ke mail client seperti MS Outlook atau Eudora. Namun, mayoritas pengakses internet ini memiliki UFD untuk menyimpan datanya, baik data skripsi maupun data lain. Belum lagi media lain, seperti memory card yang akhir-akhir ini penyebarannya menjadi sangat banyak karena populernya kamera digital dan telepon seluler yang rata-rata menggunakan memory card.

Maka, pembuat virus lokal memfokuskan penyebarannya pada Flash Disk, terutama UFD yang tinggal dimasukkan ke komputer akan memberikan storage untuk menyimpan data. Tetapi, ibarat pengguna narkoba yang saling menggunakan alat suntik yang sama dan terinfeksi HIV melalui jarum suntik tersebut, maka UFD yang pada komputer yang terinfeksi virus akan terinfeksi, kemudian menularkan virus tersebut pada komputer lain ketika dihubungkan pada komputer lain.

Sebenarnya virus yang menyebar melalui UFD bukan berbentuk Worm yang menyebarkan dirinya sendiri tanpa bantuan pengguna komputer dan hanya dapat menginfeksi jika dijalankan oleh pengguna komputer. Namun, di sinilah kecerdasan pembuat virus lokal yang menentukan keberhasilan penyebaran virus lokal menggunakan rekayasa sosial yang tepat sehingga pengguna komputer terjebak dan tidak sadar menjalankan program virus tersebut.

Biasanya virus ini memalsukan dirinya sebagai dokumen MS Word dengan icon dan nama yang sama persis dengan nama file yang ada pada UFD atau harddisk (di mana file aslinya di hapus atau disembunyikan).

Icon favorit lain yang dipalsukan oleh virus selain MS Word adalah icon Folder, lebih canggihnya lagi biasanya diikuti perubahan pada registrasi komputer sehingga file Type virus yang harusnya “Application” ikut berubah menjadi “Folder.”

Bagaimana cara mencegah komputer terinfeksi virus? Saran kami adalah gunakan program antivirus yang memiliki kemampuan deteksi virus dengan baik.

Ibarat membeli properti, syarat utama adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Cari antivirus yang memiliki kemampuan deteksi virus yang baik, memberikan layanan dan tidak sekadar menjual nama besar atau tatap muka yang keren.

source: obengware.com

2 thoughts on “Penyebaran Virus Lokal Menjadi Tuan di Rumah Sendiri

  1. paydjo.Net

    Wuih … panjang nian artikel ini 😀

    Klo gw sih, untuk pengguna yang masih awam dengan komputer, alangkah baiknya menggunakan sistem operasi yang tidak ‘virus friendly’.

    Antivirus bukan solusi

    Reply
  2. rahendz Post author

    @Om paydjo::

    yah, gampangnya gini om..

    kita kan awam masalah kedokteran

    dan udah berusaha idup sehat

    tapi yg namanya penyakit tetep

    aja bisa nyerang…

    nah, sama kaya virus kompi..

    meski dengan SO yg ‘bebas penyakit’

    tetep aja bisa kena, mungkin

    memang akan lebih jarang kena virus

    tapi yg namanya ‘penyakit’ itu ga

    musti dengan virus, bisa juga spyware,

    malware, backdoor, dan kawan2nya..

    yang perlu kita lakukan siy ya cuma

    berusaha, toh kompi saya pake SO

    yang notabene ‘virus friendly’ tetep

    ga kena virus meski ga pake antivirus…

    so tinggal gimana kitanya aja… ya to??

    piss…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.