Bimbingan dan Konseling Keluarga

  1. Latar Belakang Pentingnya Konseling Keluarga
  1. Sumber penyebab masalah yang muncul pada seseorang / individu, cenderung berasal dari keluarga.
  2. Sakitnya seorang anggota keluarga (secara psikis), cenderung bukanlah disebabkan oleh dirinya sendiri, namun karena interaksi dengan anggota keluarga lainnya sebagai sistem keluarga yang telah terganggu.
  3. Terjadinya maladjusted pada seseorang dalam keluarga, akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
  4. Hubungan diantara kedua orang tua, sangat mempengaruhi terhadap hubungan antara anggota keluarga sebagai sistem.
  1. Pengertian Konseling Keluarga

Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

Bimbingan dalam keluarga merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungan keluarganya serta dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan keluarganya.

  1. Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga menurut para hali lainnya Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
  2. Suatu proses interakif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan, dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian kebahagiaan secara utuh.

Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan ( Capuzzi, 1991 )

Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.

  1. Fungsi dan Manfaat Bimbingan Konseling dalam Keluarga
  1. Fungsi Pemahaman

Yaitu fungsi bimbingan yang membantu klien agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

  1. Fungsi Preventif

Yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh klien. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada klien tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah layanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para klien dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan.

  1. Fungsi Pengembangan

Yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan klien. Konselor secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu klien mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah layanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

  1. Fungsi Perbaikan (Penyembuhan)

Yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada klien yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

  1. Fungsi Penyaluran

Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien memilih kegiatan, atau program apa dalam memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga.

  1. Fungsi Adaptasi

Yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa). Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan siswa.

  1. Fungsi Penyesuaian

Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

Sedangkan manfaat pelaksanaan bimbingan konseling dalam keluarga adalah :

  1. Menurunkan bahkan menghilangkan stres dalam diri anggota keluarga.
  2. Membuat diri lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia.
  3. Lebih memahami diri sendiri dan orang lain khususnya anggota keluarga yang lain
  4. Merasakan kepuasan dalam hidup.
  5. Mendorong perkembangan personal.
  6. Membangkitkan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkarakter, dan percaya diri.
  7. Anggota keluarga lebih merasa dirinya dipedulikan dan diperhatikan serta lebih dihargai peranannya dalam keluarga.
  8. Lebih menghargai makna dan hakikat kehidupan dan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya.
  9. Mengurangi bahkan menghilangkan konfilik/tekanan batin yang bergejolak dalam diri individu dan dalam keluarga tersebut.
  10. Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan anggota keluarga yang lain bahkan dengan orang lain diluar keluarganya.
  1. Masalah – Masalah Keluarga

Pada masa lalu, menurut Moursuned (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga dengan anak yang mengalami gangguan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam membri kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki berbagai masalah.

Anak di dalam suatu keluarga seringkali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak ada kalanya dikketahhui oleh orang tua dan seringkali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui oorang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidiikannya terganggu. Orang tua akan mengghantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang menghadapi masalah atau sedang mengalami gangguan yang berat. Karena iitu konseling keluarga lebih banyak memberikan peayanan terhadap keluaga dengan anak yang mengalami gangguan.

Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak di jumpai orang tua tidak berkemammpuan dalam mengelola rumah tangganya, menelanntarkan kehidupan romah tanggannya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkeseimbangan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (abuse) kepada anggoota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti, dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih stabil, mereka membutuhkan konseling

Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut, permasalahan yang ketiga karena mengalami kondisi yang kurang harmoni di dalam keluarga, akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluarganya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan di konsultasikan kepada konselor antara lain :

  1. keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua
  2. konflik antara anggota keluarga
  3. perpisahan diantara aggota keluarga karena kerja di luar daerah
  4. anak yang mengalami kesulitan belajar / sosialisasi

Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat di selesaikan melalui konsleing keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi maslah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga ersedia untuk mengubah sistem keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.

Sebagaimana di kemukakan dibagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian, konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaanya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang di maksud diantaranya :

  1. tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alas an kesibukan, dan sebagainya.
  2. ada anggota keluarga yang merasa kesulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan keterbukaan ini dan saling kepercayaan satu dengan lainnya

usaha konselor dan aggota keluarga dalam mengatasi hambatan-hambatan ini sangat membantu bagi kelancaran dan keberhasilan konseling

  1. Pendekatan Konseling Keluarga

Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural :

  • Pendekatan Sistem Keluarga

Murray Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka.

Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.

  • Pendekatan Conjoint

Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.

  •  Pendekatan Struktural

Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas.

Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.

Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.

  1. Tujuan Konseling Keluarga

Menurut Shertzer dan Stone,(1980) tujuan konseling antara lain:

  • Mengadakan perubahan perilaku pada diri konseling sehingga     memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan,
  •  Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. ia belajar menerima tanggung jawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilaku,
  • Pemecahan masalah. Hal ini, berdasarkan kenyataan bahwa individu – individu yang mempunyai masalah tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Disamping itu biasanya siswa datang pada konselor karena ia percaya bahwa konselor dapat membantu memecahkan masalahnya,
  • Mencapai keefektifan pribadi
  • Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. Jelas disini bahwa, pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus diambil oleh konseli atau memilih alternatif dari tindakannya.
  • Keputusan – keputusan ada pada diri konseli sendiri, dan ia harus tau mengapa dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu, konseli harus belajar mengestimasi konsekuensi – konsekuensi yang mungkin terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang, resiko dan sebagainya. Individu belajar memperhatikan nilai – nilai dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya secara sadar dalam pengambilan keputusan,

Selanjutnya Setyawan,(1959) berpendapat bahwa tujuan konseling adalah agar konseli dapat:

  • Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier serta kehidupannya dimasa yang akan dating,
  • Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin,
  •  Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya,
  • Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

leh karena   itu, dari paparan beberapa ahli diatas. Maka Wisnu Pamuja Utama, (2011) sendiri berpendapat bahwa tujuan konseling ialah Membantu merubah perilaku konseli agar lebih produktif, membantu pemecahan masalah baik masalah pribadi, sosial, belajar, karier, keluarga, dan keagamaan, serta mendorong peserta didik mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya dalam menemukan solusi sendiri.

  1. Bentuk Konseling Keluarga

Kecenderungan pelaksanaan konseling keluarga adalah sebagai berikut.

  • Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan bagian dari sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak dapat mengesampikan peran keluarga.
  • Berfokus pada saat ini, yaitu apa diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-masalah yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan personal yang bersifat jangka panjang.

Dalam kaitannya dengan bentuknya, konseling keluarga dikembangkan dalam berbagai bentuk sebagi pengembangan dari konseling kelompok. Bentuk konseling keluarga dapat terdiri dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya. Saat ini juga dikembangkan dalam bentuk lain, misalnya ayah dan anak laki-laki, ibu dan anak perempuan, ayah dan anak perempuan, ibu dan anak laik-laki, dan sebagainya (Ohison, 1977)

Bentuk konsleing keluarga ini disesuaikan dengan keperluannya. Namun banyak ahli yang mengajurkan agar anggota keluarga dapat ikut serta dalam konseling. Perubahan pada sistem keluarga dapat dengan mudah diubah jika seluruh anggota keluarga terlibat dalam konseling, karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat juga dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.

  1. Peranan Konselor

Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut.

  • Konselor berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
  •  Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
  •  Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
  • Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control.
  • Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.
  • Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.
  1. Proses dan Tahapan Konseling Keluarga

Tahapan konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut.

  1. Orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
  2. Setelah orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang bagaimana hal inidikerjakan.

Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan anaknya.

  1. Selanjutnya orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member koreksi ika dibutuhkan.
  2. Setelah terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat. Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut, terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua, selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.
  1. Kesalahan Umum dalam Konseling Keluarga

Crane (1995) mengemukakan sejumlah kesalahan umum dalam penyelenggaraan konseling keluarga diantaranya sebagai berikut:

  • Tidak berjumpa dengan seluruh keluarga (termasuk kedua orangtua) untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi.
  • Pertama kali orangtua dan anak dating ke konselor bersama-sama, konselornya suatu saat berkata hanya orangtua dan anak tidak perlu turut dalam proses, sehingga menampakkan ketidak peduliannya terhadap apa yang menjadi perhatian anak.
  • Mengilmiahkan dan mendiskusikan masalah, atau menjelaskan pandangannya kepada orangtua dan bukan menunjukkan cara penanganan masalah yang dihadapi dalam situasi kehidupan yang nyata.
  • Melihat/ mendiagnosis untuk menjelaskan perilaku anak dan orangtua, bukan mengajarkan cara untuk memperbaiki masalah-masalah yang terjadi.
  • Mengajarkan teknik modifikasi perilaku pada keluarga yang terlalu otoritarian atau terlalu membiarkan dalam interaksi mereka.

Kesalahan-kesalahan dalam konseling keluarga semacam di atas sepatutnya dihindari untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Konselor tentunya diharapkan melakukan evaluasi secara terus-menerus terhadap apa yang dilakukan dan bagaiman hasil yang dicapai dari usahanya.

sumber :

Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang

Sayekti Pujosuwarno.1994.Bimbingan Dan Konseling Keluarga.Menara Mas Offset. Yogyakarta

http://kkhaiianhie.blogspot.com/2013/05/konseling-keluarga.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *