Upacara Kematian Pada Suku Sasak

By | December 16, 2019

Setiap suku di Indonesia memiliki kebudayaan yang khas dan tidak dimiliki oleh suku lainnya. Meskipun ada beberapa ritual yang hampir sama namun tetap masing masing ada perbedaan. Seperti halnya di Lombok yakni budaya suku Sasak, salah satu suku asli pulau Lombok memiliki ritual budaya tersendiri.

Jika anda ingin mengetahui kebudayaan Suku Sasak dari dekat, anda bisa mengunjungi Desa Sade yang merupakan pusat komunitas Suku Sasak. Karena letaknya tidak jauh dari pusat kota anda bisa menyewa kendaraan di jasa sewa mobil Lombok di Mataram.

Salah satu ritual budaya yang di miliki Suku yang terdapat pantai Seger dan hampir menyerupai ritual di Jawa adalah perayaan ritual kematian. Masyarakat di Jawa pada umumnya menyelenggarakan upacara tersebut tuuh malam berturut-turut. Untuk ritual upacara kematian di Lombok akan diulas pada tulisan di bawah ini.

Hari pertama

Disebut nepong tanaq atau nuyusur tanaq. Pemberian informasi kepada warga desa bahwa ada yang meninggal. Di Jawa pada jaman dahulu jika ada seseorang yang meninggal dunia maka salah satu harus memberitahukan kepada penduduk dsa lainnya dengan cara memukul kentongan dengan ritme yang panjang. Ternyata di Lombok terutama pada komunitas Suku Sasak hal ini sampai sekarang masih di praktekkan.

Yang membedakan adalah jika di Jawa menggunakan kentongan maka di Lombok menggunakan bedug khas Lombok. Setelah terdengar suara bedug maka warga desa mulai berdatangan dan membawa beberapa barang utamanya adalah beras yang akan disampaikan kepada keluarga yang meninggal. Kedatangan warga ini disebut dengan langar dan merupakan kedatangan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Memandikan jenazah

Sebagaimana lazimnya orang meninggal, maka setelah meninggal di laksanakan pemandian jenazah. Jenazah dimandikan oleh warga dipimpin oleh seorang tetua agama. Hal ini hampir mirip di Jawa ketika ada prosesi pemandian jenazah juga dipimpin oleh seorang kaum atau pemuka agama Islam.

Proosesi memandikan jenazah dilakukan oleh pria jika yang meninggal adalah pria begitu pula sebaliknya. Setelah jenazah selesai dimandikan maka akan dibungkus dengan kain kafan. Agar jenazah tidak di hinggapi oleh serangga maka jenazah di taburi keratan kayu cendana. Saat ini di Jawa banyak yang beralih menggunakan kapur barus.

Penguburan (Betukaq)

Pada acara penguburan tersebut di adakan penyembelihan hewan untuk acara penyusuran bumi atau dalam istilah di Jawa disebut upacara bedah bumi. Upacara tersebut di maksudkaan untuk menghormati si mayit untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan ke dalam kubur.

Hari ketiga

Hari ketiga disebut nelung yaitu penyiapan aiq wangi dan dimasukkan kepeng bolong untuk didoakan. Dan pada hari keempat menyiram aiq wangi yang telah dipersiapkan sebelumnya ke kuburan.

Hari kelima

Pada hari kelima masyarakat dan keluarga yang meninggal melaksanakan bukang daiq artinya mulai membaca Aqur’an. Dan dilanjutkan pada hari ke enam dan juga ketujuh ( mituq) dengan ritual pembacaan Al Qur’an.

Pada hari ke delapan diserahkan Dulang inggas dingari kepada Penghulu atau Kyai yang menyatakan orang tersebut meninggal dunia. Dulang inggas dingari ini harus disajikan tengah malam kesembilan hari meninggal dengan maksud bahwa pemberitahuan bahwa besok hari diadakan upacara sembilan hari.

Hari kesembilan

Hari kesembilan disebut dengan Nyiwaq atau Nyenge dengan acara akhir perebahan jangkih. Dan pada acara ini adalah acara penutupan dari prosesi selama sembilan hari.

Itulah urutan prosesi ritual upacara kematian suku Sasak yang bisa kami sampaikan. Dengan membaca artikel ini maka anda akan bertambah wawasannya tentang berbagai kebudayaan Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan lupa membaca artikel lainnya pada blog ini tentang Pantai Selatan Jogja

Leave a Reply