ARTIKEL TENTANG DAFTAR CEK MASALAH (DCM)

DAFTAR CEK MASALAH

Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya bertujuan agar individu atau siswa dapat : (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya; (2) mengembangkan bakat dan potensi seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, kerja dan masyarakat; (4) menyelesaikan masalah yang dihadapai dalam lingkungan studi, karir dan masyarakat.

Tujuan-tujuan di atas tidak akan tercapai jika konselor atau guru BK tidak memahami karakteristik, kondidi dan potensi tiap-tiap individu. Konselor perlu mengetahui, memahami dan membimbing individu untuk mencapai tujuan tadi. Oleh karena itu, konselor perlu data yang akurat tentang individu yang menjadi tanggungjawabnya melaui metode yang tepat. Sejalan dengan asas dan prinsip bimbingan dan konseling, program bimbingan dan konseling yang bermutu mebutuhkan metode dan alat yang bermutu, handal serta dapat diarsipkan secara efektif.

Dalam bimbingan dan konseling, dikenal dua metode pemahaman individu atau siswa, yaitu asesmen teknik tes dan teknik non tes kedua metode tersebut dapat digunakan oleh semua konselor atau guru BK dalam melaksanakan tugasnya. Namun, tata cara dan etika penggunaan asesmen tersebut harus mengacu pada standar ASCA (American School Counselor Association) dan AAC (Associatio for Assesment in Counseling) sebagai wadah organisasi yang berada di atas.

Akan tetapi, meskipun teknik-teknik pemahaman individu sudah dipelajari oleh para konselor atau guru BK, mereka cenderung tidak menerapkan dalam pola layanannya. Mereka justru membuat teknik sendiri yang bisa jadi jadi datanya tidak valid dan bisa dimanipulasi oleh siapapu. Tentu saja hal ini bertentangan dengan asas serta prinsip dasar bimbingan dan konseling dan akan mengurangi kualitas layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Itulah mengapa kita perlu mengulas lagi tentang asesmen pemahaman individu khususnya teknik non tes dengan menggunakan inventori Daftar Cek Masalah (DCM). Hal ini bertujuan agar kita semua baik sebagi konselor maupun masyarakat umum dapat ikut serta dalam menjaga keefektifan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Selain iu, dengan memberikan langkah-langkah penggunaan asesmen teknik non tes (khususnya DCM), kinerja konselor semakin meningkat, khususnya dalam penyusunan program kerja tahunan.

DEFINISI DAFTAR CEK MASALAH (DCM)

Daftar Cek Masalah (DCM) merupakan seperangkat dafrtar pertanyaan kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami seorang individu. Daftar Cek Masalah (DCM) dikembangkan oleh Ross L. Mooney berisi 330 butir pernyataan masalah yang terbagi dalam 11 bidang masalah, dimana setiap bidang masalah berisi 30 butir pernyataan masalah dan ditambah satu bidang masalah lain-lain yang berisi 3 butir pertanyaan terbuka.

Daftar Cek Masalah (DCM) model Ross L. Money dikembangkan pada tahun 1940 bertujuan untuk membantu siswa mengungkapkan masalah pribadi mereka. Ini bukan tes, dan tidak mengukur lingkup atau intensitas masalah siswa yang dapat menghasilkan skor tes. Tanggapan terhadap item bukanlah skor tetapi harus dianggap sebagai “jumlah sensus” masalah masing-masing siswa, dibatasi oleh kesadaran tentang masalah dan kesediaannya untuk menyatakan masalahnya.

BIDANG DAFTAR CEK MASALAH (DCM)

Untuk mempermudah proses penggunaan DCM, berbagai masalah peserta didik diklasifikasikan dalam beberapa bidang yaitu :

  1. Kesehatan dan perkembangan fisik (Health and Physical Devolopment) atau HPD
  2. Keadaan pengghidupan dan keuangan (Finance, Living conditions and Employment) atau FLE.
  3. Rekreasi dan hobi (Social and Recreational Activities) atau SRA
  4. Kehidupan sosial dan keaktifan berorganisasi (Social Psychological Relations) atau SPR
  5. Hubungan pribadi (Personal Psychological Relations) atau PPR
  6. Muda-mudi (Courtship, Sex and Marriage) atau CSM
  7. Kehidupan keluarga (Home and Family) atau HF
  8. Agama dan moral (Morals and Religion) atau MR
  9. Penyesuaian terhadap sekolah (Adjustment to College Work) atau ACW
  10. Masa depan dan cita-cita pendidikan/jabatan (The Future Vocational and Educational) atau FVE
  11. Penyesuaian terhadap kurikulum (Curriculum and Teaching Procedures) atau CTP
  12. Lain-lain

FUNGSI DAN KEGUNAAN DCM

Fungsi DCM

  1. Untuk memudahkan individu mengemukakan masalah yang pernah dan sedang dialami. Dengan DCM memungkinkan individu mengingat kembali masalah-masalah yang pernah dialaminya.
  2. Untuk sistematisasi jenis masalah yang ada pada individu agar memudahkan analisis dan sintesis dengan cara atau alat lain.
  3. Untuk menyarankan suatu prioritas program pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan masalah individu atau kelompok pada saat itu.

Kegunaan DCM

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan DCM, yaitu :

  1. Untuk melengkapi data individu yang sudah ada.
  2. Untuk mengenal individu yang perlu segera mendapat bimbingan khusus.
  3. Sebagai pedoman penyusunan program bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok pada umumnya.
  4. Untuk mendalami masalah individu maupun kelompok.

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN DAFTAR CEK MASALAH

Penggunaan DCM dalam proses assessment dalam layanan bimbingan dan konseling memiliki kelebihan dan kekurangan

Kelebihan Daftar Cek Masalah (DCM)

Penggunaan DCM memiliki beberapa kelebihan yaitu :

  1. Pada proses pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksana DCM dapat di lakukan secara klasikal,sehingga guru pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data yang banyak.
  2. Pada akurasai data yang diperoleh melalui DCM memiliki validitas dan realibilitas tinggi mengingat peserta didik yang mengisi dapat langsung melakukan pengecekan sendiri, kesesuaian masalah yang di rasakan atau dialami. Selain itu karena penyediaan butir permasalahan cukup banyak, maka membri peluang data masalah yang di ungkapkan melalui DCM bersifat teliti mendalam dan meluas.
  3. Dari segi fungsinya, penggunaan DCM memudahkan peserta didik mengemukakan masalah mengingat penyediaan butir permasalahan yang banyak memudahkan peserta didik untuk mengenali permasalahan yang sedang atau pernah di alaminya.
  4. Sistemasi jenis masalah yang dikelompokkan dalam berbagai bidang mempermudah guru pembimbing untuk melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah yang dialami peserta didik.
  5. Penggunaan DCM memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih mengenal peserta didiknya yang membutuhkan bantuan segera,konselor memiliki peta masalah individu maupun kelompok, hasil DCM dapat di gunakan sebagai landasan penetapan layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan yang lebih penting lagi peserta didik dpat memahami masalah yang dialami dan memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.

Kekurangan Daftar Cek Masalah (DCM)

Sebagai suatu metode assessment tentu saja DCM juga memiliki kelemahan antara lain :

  1. Membutuhkan waktu yang banyak untuk mengolah hasil sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah bidang masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia
  2. Data yang diungkapkan melalui DCM masih bersifat umum berbentuk peta masalah dan banyaknya maslah yang dialami pada setiap bidang,sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap masalah peserta didik,guru pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode assessment lain seperti wawancara.

LANGKAH –LANGKAH PENGGUNAAN DAFTAR CEK MASALAH

Secara umum, peran konselor dalam proses penggunaaan DCM adalah sebagai perencana, pelaksana, pengelola hasil dan penindak lanjut hasil asesmen.Berikut adalah penjelasan dari masing-masing peran konselor dalam penggunaan DCM :

  1. Konselor sebagai Perencana

Sebagai perencana,konselor harus melakukan beberapa hal yang menjadi prosedur dalam penggunaan DCM, yaitu :

  • Menetapkan tujuan pelaksanaan
  • Menetapkan waktu, sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapat layanan asesmen
  • Menyiapkan lembar asesmen dcm sesuai jumlah peserta didik
  • Menyiapkan lembar jawaban dcm
  • Menyiapkan ruang dengan situasi yang tenang, pencahayaan yang baik dan tempat duduk yang nyaman
  1. Konselor sebagai Pelaksana

Setelah melaksanaan prosedur perencanaan penggunaan DCM, konselor akan menjadi pelaksana DCM. Adapun hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang konselor dalam perannya sebagai pelaksana adalah sebagai berikut :

  1. Memberikanverbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan, manfaat dan kerahasiaan)
  2. Meminta individu menyiapkan alat tulis
  3. Membagi lembar asesmen dan lembar jawaban DCM
  4. Menginformasikan bahwa pengerjaan DCM tidak memiliki batas waktu
  5. Melakukan pemeriksaan ketepatan peserta didik dalam cara mengisi DCM
  6. Mengumpulkan hasil pengisian DCM
  7. Konselor sebagai Pengelola Hasil

Tahapan berikutnya yang harus dilakukan oleh konselor setelah lembar jawaban DCM terkumpul adalah mengelola dan menganalisis hasil asesmen tersebut.

  1. Konselor melakukan pengolahan hasil DCM dengan melakukan perhitungan secara kuantitatif menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.

Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan konselor dalam mengolah data hasil DCM secara kuantitatif :

  • Guru pembimbing melakukan analisis kuantitatif menggunakan format tabulasi yang disediakan. (Tabel 8.1)

Cara menggunakan tabulasi pengolahan :

  • Pada kolom 2 tuliskan nomor masalahnya dipilih pada setiap bidang.
  • Pada kolom 3 tuliskan jumlah butir masalah setiap bidang yang telah ditulis pada kolom 2.
  • Pada kolom 4 masukkan hasil penghitungan presentase untuk setiap bidang masalah dengan menggunakan rumus berikut ini.
  • Pada kolom 5 tuliskan nomor-nomor masalah yang dirasakan berat bila ada.
  • Berdasarkan hasil pengolahan dengan menggunakan format tabulasi, maka selanjutnya buat peringkat % masalah mulai dari % yang terbesar s/d % yang terkecil.
  • Konversikan % masalah setiap bidang pada klasifikasi berikut:

0 %                                 : Baik

1 %     – 10 %                 : Cukup Baik

11 %   – 25 %                 : Cukup

26 %   – 50 %                 : Kurang

51 %   – 100 %               : Kurang sekali

  • Buat grafik garis % masalah.
  1. Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis secara kualitatif

Tahapan pengolahan data secara kualitatif adalah sebagai berikut :

  • Pada saat melakukan analisis data kualitatif, konselor perlu menelaah setiap butir pernyataan yang dipilih peserta didik untuk setiap bidang masalah.
  • Konselor mengelompokkan dan menuliskan setiap butir masalah yang dipilih peserta didik sesuai dengan sebelas bidang masalah.
  • Buat deskripsi masalah untuk setiap bidang dengan menarik kesimpulan umum dari seluruh butir masalah yang dipilih pada bidang tersebut. Berarti konselor menghasilkan kesimpulan untuk 11 bidang masalah.
  • Konselor membuat deskripsi masalah keseluruhan yang dirasakan peserta didik dengan membuat analisis dinamika hubungan diantara bidang masalah yang memiliki presentase paling dominan atau yang memiliki klasifikasi kurang dan kurang sekali.

Pengolahan hasil DCM harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian, mengingat permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.

  1. Konselor sebagai Penindaklanjut

Dalam peran ini, konselor melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Dari pengertian diatas dapat dicontohkan pada masalah muda mudi pada DCM bahwa jumlah siswa yang mengisi dcm terdapat 10 siswa, setelah 10 siswa tersebut selesai mengisi dapat langsung diketahui mana siswa yang bermasalah dan mana yang tidak bermasalah. untuk lihat lebih lanjut lihat selengkapnya di