Apa Itu Iman

By | December 3, 2019

Assalamualaikum Wr. Wb

Sahabat apakah kita tahu sejatinya iman itu berawal dengan ikrar lisan dan berujung dengan pengorbanan dalam hidup manusia. Ia merupakan jani terhadap Rabbnya, untuk menunaikan kewajiban, sepanjang hayat masih dikandung badan. Iman mengalir dari perasaan dan penginderaan yang benar terhadap semesta, saat menyaksikan kejadian alam semesta dan memikirkannya. Atau kala mengenal Rasul-Nya dan peka terhadap suruhan dan laranganNya.

Dapat pula hatinya berdetak dan membisikan bahwa jagad raya bukan dicipta sia-sia tanpa tujuan. Ia mengerti bahwa suatu hari, saat manusia dikumpulkan,semua orang akan dihisab sesuai amalnya. Pertanyaannya, kebimbangan dan akhirnya berubah dengan kemantapan ini adalah proses dalam satu kata “Iman”. Jiwa utama iman adalah bersandar penuh dan percaya.

Bersandar pada sesuatu yang tidak terlihat mata dan mempercayainya. Disinilah dapat dimengerti bahwa makna yakin, bahwa iman pada Allah memastikan semua sifatNya, takut azabNya, dan berfikir tentang cara agar selamat dari azabNya. Karena itu adalah perlu untuk mengkaitkannya dengan taqwa, wara’ dan kahuf.

Yakin, I’timad, dan Khauf

Ketika Al-Qur’an menyebut tiga kali kata : yakin, I’timad, dan Khauf untuk menerangkan iman, semuanya merupakan pengantar pada jiwa utama iman. Iman di sisi Allah dan menerima ketentuan yang dibawa Rasul-Nya sepenuh hati. Ketakutan menggiring manusia untuk mentaati Allah tanpa paksaan dari siapa pun.

Yakin

bagian ini tidak muncul dari luar namun telah ada dalam fitrah manusia. Saat manusia berfikir tentang semesta dan menyimak ajaran Rasul,ia mendengar suara yang muncul dari dalam hingga kenal baik dengan tiga hal ini. Mencuat perasaan yang dalam bahwa ia berhadapan dengan risalah yang membawakannya ke tiga tempat sekaligus. Akhirnya ia menerima risalah yang dibawa Rasul itu.

Yakin tidak bisa diperoleh dengan mudah. Awalnya fitrah suci itu muncul, selanjutnya berkembang. Layaknya rahasia alam atau kitab tertentu yang tersingkap setelah telaah yang dalam, mencapai yakin tergantung kadar kemauan manusia untuk mencapainya.

I’timad

Perhatian seluruh hati pada diri dalam sekitar memberitahukan adanya pencipta. Sesuatu yang terjadi awal dan sumber semua peristiwa alam. Dalam keadaan ini, manusia merasakan dua hal : bahwa ia tidak punya upaya, dua dia menyadari betapa banyak nikmat yang ida terima.

Khauf

jika yakin dan I’timad dipisahkan dari yang ketiga ini, keduanya tidak akan menjadi apa-apa. Manusia menyadari khasanah nikmat dan keadilan ditangan Allah. Disisi lain melihat alam dan isinya yang menggetarkan hati. Tentu semua diciptakan bukan untuk sendagurauan tanpa yakin akan adanya hari pembalasan.

I’timad pada Allah menjadi landasan khauf, namun sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebab khauf adalah keadaan yang lahir dari kombinasi harapan dan kecemasan yang secara bersama-sama. Saat merasakannya, manusia tak dapat menjelaskan bagian mana yang lebih dominan.

Kala khauf hadir , manusia merasa amat lemah dan tak sebanding dengan apa pun. Ia tak lagi ingat haknya dan berfikir tentang kewajiban. Inilah berkumpulnya cinta dan takut, berlari menuju yang dicintai dan ditakuti untuk melepas dahaga. Kegoncangan dan ketenggan sekaligus kecemasan.

Demikianlah tiga jiwa utama iman, yang hakikatnya adalah khauf yang lahir dari I’timad dan yakin yang bulat pada Allah. Iman yang menjadi cahaya akal dan pelita hati, mengenyangkan pikiran dan rasa , mengundang teori dan aksi seiring sejalan. Baca juga penjelasan lengkap tentang iman di situs nyamankubro.com

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *