Cara Menghitung Pajak Penghasilan

By | November 3, 2017

Apakah kamu sudah bayar pajak penghasilan?

Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak, pajak penghasilan bisa berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berkaitan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, serta kegiatan yang dilakukan oleh subjek pajak atau penerima penghasilan dalam negeri.

cara menghitung pajak penghasilan atas bonus

Jadi Pajak Penghasilan (PPH) 21 ini dapat dikatakan sebagai pajak yang dikenakan pada subjek pajak atau kamu yang sudah menerima penghasilan dari tempat kerjamu dengan nominal tertentu. Nah, setelah menerima gaji, maka kamu wajib membayar dan melaporkan pajak penghasilan ke Kantor Pelayanan Pajak terdekat atau sekarang sudah bisa secara online.

Pada umumnya, bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja akan kesulitan menangani masalah pajak ini, tetapi beberapa perusahaan biasanya memiliki staff tersendiri atau bagian pajak yang khusus menginput data pembayaran pajak yang harus dilaporkan oleh para karyawannya, sehingga para karyawan itu tidak perlu repot-repot datang ke Kantor Pelayanan Pajak seorang diri.

Namun, tidak semua kantor memberlakukan peraturan yang sama. Beberapa pekerja lain yang berpenghasilan tinggi juga mengalami masalah serupa, sampai-sampai untuk membayar dan melaporkan pajak saja mereka sering mendapat teguran oleh bagian Ekstensifikasi Kantor Pelayanan Pajak.

Nah, sebelum dapet peringatan atau teguran dari Kantor Pelayanan Pajak(KPP), ada baiknya dari diri sendiri harus mulai belajar menghitung sekaligus melaporkan pajak, bagaimana ya kira-kira caranya?

Berikut cara menghitung pajak penghasilan sesuai dengan peraturan pemerintah

Misalnya nih, kamu bekerja pada sebuah perusahaan bernama PT Mandiri Cinta Karya Abadi Sejahtera dan di sana sebagai pekerja tetap, kamu mendapat gaji per bulan Rp 5.000.000 per bulan, membayar iuran pensiunan Rp 250.000, lalu kamu menikah tetapi belum punya anak. Maka bisa dihitung seperti ini:

Gaji Rp 5000.000

Maka terjadi pengurangan biaya jabatan sebesar 5%, jadi 5% x Rp 6000.000 = Rp 300.000 + Rp 250.000 (iuran pensiuan) maka jumlah penghasilan neto sebulan adalah Rp 550.000.

Setelah itu, gaji utama Rp 6000.000 – Rp 550.000 = Rp 5.450.000 (jadilah penghasilan neto sebulan)

Nah, barulah kita menghitung penghasilan netto selama setahun, caranya adalah 12 bulan dikalikan dengan jumlah penghasilan neto sebulan, yang berarti 12 x Rp Rp 5.450.000 = Rp 65.400.000 (penghasilan neto setahun)

Perlu diketahui ya, untuk PTKP setahun, untuk wajib pajak sendiri adalah Rp 54.000.000, dan tambahan karena sudah menikah adalah 4.500.000, jadi penghasilan kena pajak setahun adalah Rp 54.000.000 + Rp 4.500.000 = Rp 58.500.000.

Lalu bagaimana menghitung PPh 21 terutangnya?

Penghasilan neto setahun – penghasilan kena pajak setahun, jadi Rp 64.400.000 – Rp 58.500.000 = Rp 6.900.000, maka tinggal dikalikan sebesar 5%, maka hasilnya adalah Rp 345.000. Barulah setelah itu Rp 345.000 : 12 = Rp 28.750,00

Jadi Pajak yang harus kamu bayarkan selama bulan Januari atau awal tahun itu hanyalah sebesar Rp Rp 28.750,00.

Bagaimana? Apakah kamu merasa kesulitan? Andai kata masih belum memahami sepenuhnya bagaimana cara menghitung pajak terutang dan bagaimana pelaporan pajak, kamu bisa menggunakan jasa konsultan pajak.

Jasa Konsultan pajak akan mendampingi kamu dalam mencari perhitungan pajak yang tepat dan menjamin tidak akan terjadi kesalahan. Selain itu, pastikan bahwa yang kamu cari adalah jasa konsultan pajak yang memang mengerti betul mengenai seluk-beluk pajak dan ruang lingkupnya, karena biasanya jasa konsultan pajak asli mudah diajak berkomunikasi dan memahami segala permasalahan yang dialami oleh klien seperti kamu.

Tidak hanya itu, buat kamu yang ingin merencanakan pajak dan bisa mengambil keuntungan lebih baik, maka jasa konsultan pajak merupakan pilihan paling tepat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *