Month: July 2019

ARTIKEL KONSELOR ISLAMI

Bimbingan Konseling Islam

Pendidikan agama harus diimulai dari rumah tangga, sejak si anak masih kecil. Pendidikan tidak hanya  berarti memberi pelajaran agama kepada anak-anak yang belum lagi mengerti dan dapat menangkap pengertian-pengertian yang abstrak. Akan tetapi yang terpokok adalah penanaman jiwa percaya kepada Tuhan, membiasakan mematuhi dan menjaga nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh ajaran agama.

Dengan demikian, pendidikan Agama Islam berperan membentuk manusia Indonesia yang percaya dan takwa kepada Allah SWT, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-sehari, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

  1. Ajaran Islam Yang Berkaitan Dengan Bimbingan Konseling

Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figure konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaiton. Seperti tertuang dalam ayat berikut ini :

“Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran dan saling menasehati supaya mengamalkan kesabaran”. (Al-Ashr :1-3)

 

  1. Pendekatan Islami Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling

Pendekatan Islami dapat dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dalam pelaksanaan bimbingan konseling yang meliputi pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan, dan seterusnya yang berkaitan dengan klien dan konselor.

Bagi pribadi muslim yang berpijak pada pondasi tauhid pastilah seorang pekerja keras, namun nilai bekerja baginya adalah untuk melaksanakan tugas suci yang telah Allah berikan dan percayakan kepadanya, ini baginya adalah ibadah. Sehingga pada pelaksanaan bimbingan konseling, pribadi muslim tersebut memiliki ketangguhan pribadi tentunya dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Selalu memiliki Prinsip Landasan dan Prinsip Dasar yaitu hanya beriman kepada Allah SWT.
  2. Memiliki Prinsip Kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
  3. Memiliki Prinsip Kepemimpina, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasulnya.
  4. Selalu memiliki Prinsip Pembelajaran, yaitu berprinsip kepada  Al-Qur’an Al Karim.
  5. Memiliki Prinsip Masa Depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”
  6. Memiliki Prinsip Keteraturan, yaitu beriman kepada “Ketentuan Allah”

 

Pada diri counselee juga ada benih-benih agama, sehingga untuk mengatasi masalah dapat dikaitkan dengan agama, dengan demikian pembimbing dan konselor dapat mengarahkan individu (counselee) kearah agamaya, dalam hal ini Agama Islam.

Selanjutnya ditemukan bahwa agama, terutama Agama Islam mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konselingdan terapi dimana filosopinya didasarkan atas ayat-ayat Alquran dan Sunnah Rosul. Proses pelaksanaan bimbingan, konseling dan psikoterapi dalam Islam, tentunya membawa kepada peningkatan iman, ibadah dan jalan hidup yang di ridai Allah SWT.

 

 

RINGKASAN VIDEO LEBARAN

Pada waktu lebaran 2019 saya membuat vieo yang berjudul lebaran saya membuat video ini berdasarkan tugas untuk memenuhi tugas pengantar sistem informatika pada semester genap, saya membuat video di kota kelahiran saya BREBES tempat pembuatan video lebaran ini di rumah orang tua saya yang kebetulan sedang mengadakan halal bihalal keluarga besar.

Daftar Cek Masalah (DCM)

Daftar Cek Masalah

Daftar Cek Masalah adalah daftar berisi pernyataan-pernyataan yang merupakan masalah yang diasumsikan biasa dialami oleh individu dalam tingkat perkembangan tertentu. DCM digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang dialami oleh individu, dengan merangsang atau memancing individu untuk mengutarakan masalah yang pernah atau sedang dialaminya.

Dalam hal penulis merancang bentuk DCM sendiri yang merupakan perpaduan dari contoh-contoh DCM yang sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. DCM hasil rancangan penulis ini terdiri dari 240 butir pernyataan dan 3 butir pertanyaan yang terbagi dalam 5 bidang. 4 bidang sesuai dengan bidang bimbingan yakni : pribadi, sosial, belajar dan karir. Beberapa aspek yang berusaha diungkap lewat DCM ini adalah :

  1. Kesehatan
  2. Keadaan Penghidupan
  3. Rekreasi dan Hobi
  4. Kehidupan Keluarga
  5. Agama dan Moral
  6. Kehidupan Sosial dan Keaktifan Berorganisasi
  7. Hubungan Pribadi
  8. Muda-Mudi
  9. Penyesuaian Terhadap Sekolah
  10. Masa Depan dan Cita-cita Pendidikan Jabatan
  11. Pengertian Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM)

Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) adalah suatu metode untuk mengumpulkan data yang berupa suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya. Setiap pernyataan yang cocok dengan dirinya diisi chek atau tanda-tanda lainnya yang ditetapkan. Sedangkan pernyataan-pernyataan yang tidak cocok dengan dirinya tidak diisi. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) mempunyai persamaan dengan metode kuesioner, yaitu kedua-duanya menggunakan instrumen yang berupa suatu daftar.

Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) instrumen berupa pertanyaan yang harus dipilih oleh subyek sesuai dengan keadaan dirinya. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) merupakan salah satu laporan diri atau deskripsi diri yang dipakai untuk mengetahui adanya masalah yang dihadapai individu secara langsung menggunakan alat-alat tertentu.

  1. Kompetensi dan Indikator DCM (Daftar Cek Masalah)

Setelah mempelajari DCM diharapkan peserta bisa memanfaatkan daftar cek sebagai salah satu teknik untuk memahami konseli yang hendak dibimbingnya. Sebagai indikator peserta telah mampu memanfaatkan daftar cek ditunjukkan dalam (a) menyusun daftar cek sesuai tujuan dan subyek yang difahami, (b) mampu melaksanakan asesmen dengan menggunakan daftar cek, (c) mampu melakukan analisis terhadap data hasil daftar cek, dan (d) mampu memanfaatkan data dari daftar cek untuk kepentingan bimbingan.

  1. Kelemahan dan Kelebihan Daftar Cek Masalah
  2. Kelebihan DCM
  3. Metode ini dilaksanakan dan mudah pula cara pemberian markahnya dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan.
  4. Pelaksanaan inventori lebih lanjut dapat menimbulkan self kritis pada siswa yang mengisi inventori tersebut.
  5. Metode inventori merupakan metode pengumpulan data yang cukup efektif, sebab dapat menjaring data yang cukup banyak dalam waktu yang relatif singkat.
  6. Kelemahan DCM
  7. Para siswa hanya memberikan respon dalam bentuk verbal saja.
  8. Pemgumpulan data terpaksa hanya tergantung kepada kejujuran dan keiklasan para siswa.
  9. Seringkali subyek tidak memberikan jawaban yang benar karena adanya beberapa alasan.
  1. Langkah langkah dalam pembuatan DCM
    1. Konselor menyiapkan bahan sesuai dengan jumlah siswa
    2. Konselor benar-benar menguasai petunjuk cara mengerjakan
  2. Pelaksanaan
    1. Mengontrol situasi ruang
    2. Konselor memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penggunaan tujuan
    3. Memberikan instruksi terhadap siswa untuk mempersiapkana alat-alat tulis
    4. Membagikan lembar daftar cek masalah
    5. Memberikan  instruksi kepada siswa untuk menulis identitas diri dan tanggal pelaksanaan daftar cek masalah siswa
    6. Membacakan petunjuk cara mengerjakan daftar cek masalah
    7. Memberi contoh cara mengerjakan cek masalah
    8. Memberikan instruksi cara mengerjakan daftar cek masalah, dan memperingatkan agar siswa mengerjakan dengan tenang, dan teliti, serta memberitahukan bahwa waktu yang disediakan cukup lam kurang lebih satu jam
    9. Mengontrol apakah para siswa telah mengerjakan daftar cek masalah dengan benar
    10. Mengumpulkan pekerjaan siswa.
  3. Fungsi dari DCM
  4. Untuk memudahkan individu mengemukakan masalah yang pernah atau sedang dihadapi.
  5. Untuk mensistimatisasi jenis masalah yang ada pada individu agar memudahkan analisa dan sintesa dengan data yang diperoleh dengan cara/alat lain.
  6. Untuk menyusun program pelayanan konseling agar sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan siswa.
  7. Cara Pengerjaan DCM
  8. Siswa diminta menuliskan identitasnya secara lengkap sesuai format isian yang disediakan dalam lembarjawab DCM.
  9. Siswa dipersilahkan membaca item-item yang di dalamnya berisi pernyataan-pernyataan yang mengandung permasalahan-pennasalahan yang biasa dialami oleh individu.
  10. Siswa diminta menuliskan nomer item pernyataan di lembar jawab, jika masalah tersebut sesuai dengan yang pemah dialami atau sedang dialami
  11. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan kerahasiaan akan semua jawabannya
  12. Menginformasikan bahwa hasil DCM akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan (bantuan) pada siswa.
  13. Waktu yang diberikan pada siswa setara dengan satu jam pelajaran, yakni 40 menit.
  14. Pengolahan Hasil Instrumen

Dalam pengolahannya DCM ini dapat dianalisa secara kelompok dan individu, sedangkan aspek yang dianalisa adalah per-butir masalah dan per-topik.

  1. Langkah-langkah analisa secara individual adalah sebagai berikut :
  2. Menjumlah item yang menjadi masalah individu pada setiap topik masalah.
  3. Mencari presentasi per-topik masalah dengan cara mencari rasio antara jumlah butir yang menjadi masalah dengan butir topik masalah.

Nm      : Jumlah butir yang menjadi masalah individu dalam setiap Topik

N         : Jumlah butir pada topik masalah tersebut.

  1. Mencari jenjang (rangking) masalah dengan cara mengurutkan % topik masalah mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.
  2. Mengkonversikan % masalah ke dalam predikat nilai A, B, C, D, dan E sebagai berikut :

0 %                  = A (Baik)

1 % -10 %       = B (Cukup Baik)

11%-25%        = C (Cukup)

26% – 50 %     = D (Kurang)

51 % -100 %   = E (Kurang Sekali)

  1. Langkah-langkah analisa secara kelompok adalah sebagai berikut:
  2. Analisa per-butir masalah
  • Menjumlahkan banyaknya siswa yang mempunyai butir masalah yang sama un tuk setiap butir.
  • Mencari prosentase masalah dengan cara mencari rasio antara banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu dengan jumlah siswa

Nm      : Banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu.

N         : Banyaknya siswa yang mengerjakan DCM

  1. Analisa per-topik masalah
  • Harus diketahui jumlah siswa yang mengerjakan DCM
  • Harus diketahui jumlah butir yang menjadi masalah siswa (dicek)
  • Menghitung Prosentase permasalahan topik

Nm      :         Jumlah butir masalah yang dicek

N         :         Jumlah siswa yang mengerjakan DCM

m         :         Jumlah butir dalam topik masalah

  1. Penyampaian Hasil

Hasil dari pengolahan Instrumentasi perlu disampaikan kepada fihak-fihak yang terkait secara langsung dengan responden. Dalam penyampaian hasil instrumentasi ini tetap harus menjaga kerahasiaan, tidak boleh disampaikan/diumumkan secara terbuka dan dijadikan pembicataan umum.

Dalam forum khusus, hasil instrumentasi dapat dijadikan topik bahasan/diskusi, namun tetap harus menjaga kerahasiaan responden (tidak menyebut nama responden).

Dari keseluruhan penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini hasil yang diperoleh disampaikan kepada masing-masing responden, dalam bentuk Profil Individual, sedangkan kepada Guru bimbingan dan konseling/Kepala Sekolah diberikan Data rekap dan data pendukung lainnya, sebagai bahan untuk pemberian layanan lebih lanjut.

Penyampaian hasil instrumentasi kepada masing-masing responden akan lebih baik apabila disampiakan secara individual, sehingga konselor dapat berkomunikasi dan menjelaskan isi dari laporan hasil instrumentasi yang akan diberikan dalam bentuk format individual, dan sekaligus bagi siswa yang memiliki permasalahan dapat diberikan penjelasan untuk langkah-langkah tindak lanjut berikutnya

  1. Implikasi Hasil Aplikasi Instrumentasi Dalam Pelayanan Konseling

Hasil Aplikasi Instrumentasi pada hakekatnya dapat diaplikasikan dalam seluruh spektrum kegiatan pelayanan konseling, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian dan pengembangannya. Bahkan memungkinkan kegiatan Aplikasi Instrumentasi ini merupakan langkah yang menentukan dalam penentuan pemberian layanan konseling. Secara umum Implikasi hasil Aplikasi Instrumentasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Perencanaan Program Konseling.

Penyusunan program layanan konseling di sekolah, baik program tahunan maupun semesteran seharusnya didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil ulangan/ujian, bakat dan minat serta kecenderungan siswa, dan data lainnya yang kesemuanya terkumpul dalam kegiatan Need Assessment.Hasil Aplikasi Instrumentasi secara jelas telah menunjukkan berbagai data  yang menyangkut kondisi responden, maka akan ditemuka Need Assessment sebagai dasar penyusunan/perencanaan Program Konseling. Dengan data yang lengkap dari Aplikasi Instrumentasi ini dapat dirumuskan Program Konseling secara menyeluruh, untuk setiap kelas, dengan mengacu kepada kebutuhan siswa, baik perorangan maupun kelompok. Pada intinya untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling direncanakan berdasarkan data hasil Need Assessment.

  1. Penetapan Peseta Layanan

Berdasarkan data hasil instrumentasi, Konselor dapat menetapkan individu yang perlu mendapat layanan konseling, baik layanan dengan format klasikal, kelompok maupun individual. Kegiatan dengan format lapangan dan “politik” bagi klien tertentupun dapat direncanakan oleh Konselor dengan mendasarkan pada hasil Aplikasi Instrumentasi ini.

  1. Sebagai Isi Layanan

Data yang terungkap dari penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini dapat pula menjadi isi dari layanan konseling.Hal ini disebabkan karena dalam penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi khususnya yang mengungkap tentang hubungan sosial (sosiogram), inteligensi, bakat dan minat dapat dijadikan sebagai isi layanan  Untuk hal ini diperlukan  kecermatan Konselor dalam melihat relevansi antara hasil Aplikasi Instrumentasi dengan kebutuhan Klien dan menggunakannya secara tepat, dengan senantiasa menerapkan asas kerahasiaan sebagaimana mestinya.

 

 

ANALISIS DCM yg benar

Artikel Sunmary/ Ringkasan Brosur

RINGKASAN BROSUR

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Pengantar

Program Studi Bimbingan dan Konseling berdiri melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0139/0/1984, 9 Maret 1984.  Program studi memiliki visi menjadi program studi yang mampu bersaing dan inovatif dalam pembelajaran dan pelayanan bimbingan dan konseling yang berbasis riset dan teknologi terkini, serta nilai keislaman. Sedangkan misinya antara lain menyelenggarakan program akademik dan professional berbasis nilai keislaman, menyelenggarakan riset dalam bidang keilmuan kependidikan utamanya bimbingan dan konseling, menyelenggarakan program layanan kepakaran utamanya bimbingan dan konseling kepada masyarakat.  Gelar yang diberikan kepada lulusan yaitu S. Pd.

Visi

Pada tahun 2020 menjadi program studi yang unggul penghasil pendidik yang bertaraf nasional berwawasaan global dan inovatif dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berbasis riset dan teknologi, serta nilai keislaman.

Misi

  1. Menyelenggarakan program akademik dan professional bidang Bimbingan dan Konseling berbasis nilai keislaman.
  2. Menyelenggarakan riset dalam bidang ilmuan Pendidikan utamanya Bimbingan dan Konseling berbasis nilai keislaman.
  3. Menyelenggarakan program layanan pengabdian pada masyarakat dalam bidang Bimbingan dan Konseling berbasis nilai keislaman.
  4. Menjalin kerjasama di tingkat internasional kususnya dalam bidang Bimbingan dan Konseling.

Akreditasi

Terakreditasi A (SK No : 1665/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2017)

Kompetensi Lulusan

Lulusan Program Studi Bimbingan dan Konseling diarahkan agar memiliki kemampuan untuk:

  1. Memahami pengetahuan dasar bimbingan dan konseling serta konsep pelayanan secara obyektif dan professional, sehingga dapat memahami setiap gejala perilaku manusia, baik perorangan maupun kelompok.
  2. Melaksanakan dasar-dasar penelitian dalam bidang bimbingan dan konseling.
  3. Menganalisis dan menafsirkan setiap gejala perilaku individu, mampu memilih dan mempergunakan secara tepat metode pelayanan secara profesioanal kepada individu ataupun kelompok.
  4. Mewujudkan kepekaan yang bertanggung jawab terhadap nilai, proses, dan masalah sosial, budaya, agama, politik, dan ekonomi yang berpengaruh pada tingkah laku manusia, sehingga dapat menfsirkan tingkah laku dalam kaitannya dengan kondisi masyarakat Indonesia.
  5. Memahami, menghayati, dan melaksanakan prinsip-prinsip dan kode etik yang meliputi kode etik layanan, keilmuan, penelitian, dan Profesi.
  6. Menyusun laporan penilaian, penelitian di bidang layanan bimbingan dan konseling secara ilmiah dan professional.

 

AKTIFITAS MUDIK/ HARI RAYA

AKTIFITAS MUDIK/ HARI RAYA

Lebaran/Hari Raya merupakan salah satu momentum bagi masyarakat Indonesia untuk mudik atau pulang kampung. Ternyata tradisi mudik lebaran untuk berkumpul bersama keluarga dan mengucapkan selamat idul fitri ini tidak tergantikan meski dengan beragam alat komunikasi yang semakin canggih. Orang-orang rela antre, berdesak-desakan serta macet panjang demi bisa melaksanakan tradisi pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga saat lebaran.

Aktifitas saya waktu mudik tahun 2019 bertujuan dari yogyakarat ke Brebes sebelum hari H pada waktu saya mudik saya menggunakan sepda motor bersama teman-teman satu kampung di sini saya merasa suatu yang bisa membuat saya membayangkan kebahagian yaitu bisa bertemu keluarga khususnya bertemu dengan kedua orang tua saya yang saya rindukan namun pada perjalanan saya berhenti membayangkan kebahagian itu pada saat motor saya mengalami mogok di karenakan pada bagian mesin motor saya mengalami patah fanbel pada bagian mesin disini saya merasa tidak enak pada beberapa teman yang ikut berhenti dan membantu sya untuk membawa motor ke bengkel motor di purworejo.

Setelah satu jam selesai dari bengke saya bersama teman-teman saya melanjutkan perjalanan mudik singkat cerita saya bersam teman telah sampai di kota kelahiran pada sore hari dan kami pun berpisah setelah melakukan perjalan ke rumah masing-masing dan melambaikan tangan pda waktu saya sampai rumah saya di sambut pertama kali pada ayah saya yang sedang duduk di depan rumah dan menanyakan bahgaimana kabar sewaktu di jogja, lalu saya bertemu ibu saya yang sedang memasak makanan dan menawarkan makan kesaya mungkin ibu saya tahu kalo saya lapar setelah melakukan perjalanan.

Pada waktu saya di rumah singkat cerita tiba pada waktu malam takbir. Di daerah saya pada waktu malam takbir di sana masyarakat melakukan yang namanya takbir keliling setelah melakukan sholat isya stelah masyarakat merayakan yang di sebut takbir keliling beberapa orang melakukan sholawatan di masjid sampai pagi hari sebelum melakukan ibadah sholat fitri dan masyarakat di sana setelah melakukan sholat idul fitri masyarakat di sana melakukan halal bihalal secara bertahap aitu mulai dari tetangga sampai ke pemakaman keluarga hingga ke keluarga yang di luar kota.

HOBY DAN AKTIFITAS HARIAN

HOBY DAN AKTIFITAS HARIAN

Disini saya akan membuat artikel yaitu tetntang hobi saya dan menceritakan beberapa hobi saya sebenarnya bicara hobi di sini saya mempunyai beberapa hobi kenapa mempunyai beberapa hobi di sini singkat cerita saya mampunyai pemikiran yang selalu berubah-ubah seperti kebosanan dalam melakukan hal beerapa hobi saya bisa di sebut dengan kesukaan dinini beberapa kesukaan saya yang pertama saya adalah makan selagi saya kuliah saya selalu makan setelah melakukan kegiatan kuliah ya makanan yang tentunya saya senangi dan enak untuk di makan setelah melakukan kuliah beberapa aktifitas saya di luar perkuliahan biasanya setiap hari sabtu sore saya melakukan kegiatan seperti memancing ikan hobi ini saya sukai dari umur 9 tahun saya mempunyai hobi ini karna sewaktu saya kecil saya serin di ajak memancing oleh ayah saya yang suka memancing di kolam ikan nah kebiasaan itu saya menjadi suka memancing dengan memancing ikan menurut saya adalah cara untuk menyegarkan fikiran dari tugas kuliah yang saat ini saya tempuh jika kalian tidak percaya kalian bisa buktikan sendiri asli memancing ikan menurut saya aktifitas yang positif. Singkat cerita saya akan memberikan berupa dokumentasi hobi saya memancing.

Dokumentasi Hobi :

 

 

Aktifitas Harian

Baik bagi maha siswa apa saja yang di lakukan ketika di luar jam perkuliahan sehari-hari, beberapa aktifitas saya kesehariannya salah satunya melakukan kegiatan perkuliahn, selain melakukan aktifitas kuliah saya di luar perkuliaha seperti mengerjakan pekerjaan kuliah seperti tugas setelah melihat tugas kuliah telah selesai dan tidak ada kegiatan saya biasanya melakukan penambahan wawasan saya dengan melakukan brosing sampai menonton video you tube. Saat ini kegiatan di luar perkuliahan saya adalah belajar karna adanya ujian akhir semester genap dan mempersiapkan pembekalan karna setelah ujian akhir semester ini akan di adakan magang atau plp2 seperti membuat media untuk di buat pada saat proses plp2.

 

Daftar Cek Masalah (DCM)

Daftar Cek Masalah

Daftar Cek Masalah adalah daftar berisi pernyataan-pernyataan yang merupakan masalah yang diasumsikan biasa dialami oleh individu dalam tingkat perkembangan tertentu. DCM digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang dialami oleh individu, dengan merangsang atau memancing individu untuk mengutarakan masalah yang pernah atau sedang dialaminya.

Dalam hal penulis merancang bentuk DCM sendiri yang merupakan perpaduan dari contoh-contoh DCM yang sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. DCM hasil rancangan penulis ini terdiri dari 240 butir pernyataan dan 3 butir pertanyaan yang terbagi dalam 5 bidang. 4 bidang sesuai dengan bidang bimbingan yakni : pribadi, sosial, belajar dan karir. Beberapa aspek yang berusaha diungkap lewat DCM ini adalah :

  1. Kesehatan
  2. Keadaan Penghidupan
  3. Rekreasi dan Hobi
  4. Kehidupan Keluarga
  5. Agama dan Moral
  6. Kehidupan Sosial dan Keaktifan Berorganisasi
  7. Hubungan Pribadi
  8. Muda-Mudi
  9. Penyesuaian Terhadap Sekolah
  10. Masa Depan dan Cita-cita Pendidikan Jabatan
  11. Pengertian Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM)

Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) adalah suatu metode untuk mengumpulkan data yang berupa suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya. Setiap pernyataan yang cocok dengan dirinya diisi chek atau tanda-tanda lainnya yang ditetapkan. Sedangkan pernyataan-pernyataan yang tidak cocok dengan dirinya tidak diisi. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) mempunyai persamaan dengan metode kuesioner, yaitu kedua-duanya menggunakan instrumen yang berupa suatu daftar.

Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) instrumen berupa pertanyaan yang harus dipilih oleh subyek sesuai dengan keadaan dirinya. Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) merupakan salah satu laporan diri atau deskripsi diri yang dipakai untuk mengetahui adanya masalah yang dihadapai individu secara langsung menggunakan alat-alat tertentu.

  1. Kompetensi dan Indikator DCM (Daftar Cek Masalah)

Setelah mempelajari DCM diharapkan peserta bisa memanfaatkan daftar cek sebagai salah satu teknik untuk memahami konseli yang hendak dibimbingnya. Sebagai indikator peserta telah mampu memanfaatkan daftar cek ditunjukkan dalam (a) menyusun daftar cek sesuai tujuan dan subyek yang difahami, (b) mampu melaksanakan asesmen dengan menggunakan daftar cek, (c) mampu melakukan analisis terhadap data hasil daftar cek, dan (d) mampu memanfaatkan data dari daftar cek untuk kepentingan bimbingan.

  1. Kelemahan dan Kelebihan Daftar Cek Masalah
  2. Kelebihan DCM
  3. Metode ini dilaksanakan dan mudah pula cara pemberian markahnya dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan.
  4. Pelaksanaan inventori lebih lanjut dapat menimbulkan self kritis pada siswa yang mengisi inventori tersebut.
  5. Metode inventori merupakan metode pengumpulan data yang cukup efektif, sebab dapat menjaring data yang cukup banyak dalam waktu yang relatif singkat.
  6. Kelemahan DCM
  7. Para siswa hanya memberikan respon dalam bentuk verbal saja.
  8. Pemgumpulan data terpaksa hanya tergantung kepada kejujuran dan keiklasan para siswa.
  9. Seringkali subyek tidak memberikan jawaban yang benar karena adanya beberapa alasan.
  1. Langkah langkah dalam pembuatan DCM
    1. Konselor menyiapkan bahan sesuai dengan jumlah siswa
    2. Konselor benar-benar menguasai petunjuk cara mengerjakan
  2. Pelaksanaan
    1. Mengontrol situasi ruang
    2. Konselor memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penggunaan tujuan
    3. Memberikan instruksi terhadap siswa untuk mempersiapkana alat-alat tulis
    4. Membagikan lembar daftar cek masalah
    5. Memberikan  instruksi kepada siswa untuk menulis identitas diri dan tanggal pelaksanaan daftar cek masalah siswa
    6. Membacakan petunjuk cara mengerjakan daftar cek masalah
    7. Memberi contoh cara mengerjakan cek masalah
    8. Memberikan instruksi cara mengerjakan daftar cek masalah, dan memperingatkan agar siswa mengerjakan dengan tenang, dan teliti, serta memberitahukan bahwa waktu yang disediakan cukup lam kurang lebih satu jam
    9. Mengontrol apakah para siswa telah mengerjakan daftar cek masalah dengan benar
    10. Mengumpulkan pekerjaan siswa.
  3. Fungsi dari DCM
  4. Untuk memudahkan individu mengemukakan masalah yang pernah atau sedang dihadapi.
  5. Untuk mensistimatisasi jenis masalah yang ada pada individu agar memudahkan analisa dan sintesa dengan data yang diperoleh dengan cara/alat lain.
  6. Untuk menyusun program pelayanan konseling agar sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan siswa.
  7. Cara Pengerjaan DCM
  8. Siswa diminta menuliskan identitasnya secara lengkap sesuai format isian yang disediakan dalam lembarjawab DCM.
  9. Siswa dipersilahkan membaca item-item yang di dalamnya berisi pernyataan-pernyataan yang mengandung permasalahan-pennasalahan yang biasa dialami oleh individu.
  10. Siswa diminta menuliskan nomer item pernyataan di lembar jawab, jika masalah tersebut sesuai dengan yang pemah dialami atau sedang dialami
  11. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan kerahasiaan akan semua jawabannya
  12. Menginformasikan bahwa hasil DCM akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan (bantuan) pada siswa.
  13. Waktu yang diberikan pada siswa setara dengan satu jam pelajaran, yakni 40 menit.
  14. Pengolahan Hasil Instrumen

Dalam pengolahannya DCM ini dapat dianalisa secara kelompok dan individu, sedangkan aspek yang dianalisa adalah per-butir masalah dan per-topik.

  1. Langkah-langkah analisa secara individual adalah sebagai berikut :
  2. Menjumlah item yang menjadi masalah individu pada setiap topik masalah.
  3. Mencari presentasi per-topik masalah dengan cara mencari rasio antara jumlah butir yang menjadi masalah dengan butir topik masalah.

Nm      : Jumlah butir yang menjadi masalah individu dalam setiap Topik

N         : Jumlah butir pada topik masalah tersebut.

  1. Mencari jenjang (rangking) masalah dengan cara mengurutkan % topik masalah mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil.
  2. Mengkonversikan % masalah ke dalam predikat nilai A, B, C, D, dan E sebagai berikut :

0 %                  = A (Baik)

1 % -10 %       = B (Cukup Baik)

11%-25%        = C (Cukup)

26% – 50 %     = D (Kurang)

51 % -100 %   = E (Kurang Sekali)

  1. Langkah-langkah analisa secara kelompok adalah sebagai berikut:
  2. Analisa per-butir masalah
  • Menjumlahkan banyaknya siswa yang mempunyai butir masalah yang sama un tuk setiap butir.
  • Mencari prosentase masalah dengan cara mencari rasio antara banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu dengan jumlah siswa

Nm      : Banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu.

N         : Banyaknya siswa yang mengerjakan DCM

  1. Analisa per-topik masalah
  • Harus diketahui jumlah siswa yang mengerjakan DCM
  • Harus diketahui jumlah butir yang menjadi masalah siswa (dicek)
  • Menghitung Prosentase permasalahan topik

Nm      :         Jumlah butir masalah yang dicek

N         :         Jumlah siswa yang mengerjakan DCM

m         :         Jumlah butir dalam topik masalah

  1. Penyampaian Hasil

Hasil dari pengolahan Instrumentasi perlu disampaikan kepada fihak-fihak yang terkait secara langsung dengan responden. Dalam penyampaian hasil instrumentasi ini tetap harus menjaga kerahasiaan, tidak boleh disampaikan/diumumkan secara terbuka dan dijadikan pembicataan umum.

Dalam forum khusus, hasil instrumentasi dapat dijadikan topik bahasan/diskusi, namun tetap harus menjaga kerahasiaan responden (tidak menyebut nama responden).

Dari keseluruhan penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini hasil yang diperoleh disampaikan kepada masing-masing responden, dalam bentuk Profil Individual, sedangkan kepada Guru bimbingan dan konseling/Kepala Sekolah diberikan Data rekap dan data pendukung lainnya, sebagai bahan untuk pemberian layanan lebih lanjut.

Penyampaian hasil instrumentasi kepada masing-masing responden akan lebih baik apabila disampiakan secara individual, sehingga konselor dapat berkomunikasi dan menjelaskan isi dari laporan hasil instrumentasi yang akan diberikan dalam bentuk format individual, dan sekaligus bagi siswa yang memiliki permasalahan dapat diberikan penjelasan untuk langkah-langkah tindak lanjut berikutnya

  1. Implikasi Hasil Aplikasi Instrumentasi Dalam Pelayanan Konseling

Hasil Aplikasi Instrumentasi pada hakekatnya dapat diaplikasikan dalam seluruh spektrum kegiatan pelayanan konseling, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian dan pengembangannya. Bahkan memungkinkan kegiatan Aplikasi Instrumentasi ini merupakan langkah yang menentukan dalam penentuan pemberian layanan konseling. Secara umum Implikasi hasil Aplikasi Instrumentasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Perencanaan Program Konseling.

Penyusunan program layanan konseling di sekolah, baik program tahunan maupun semesteran seharusnya didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil ulangan/ujian, bakat dan minat serta kecenderungan siswa, dan data lainnya yang kesemuanya terkumpul dalam kegiatan Need Assessment.Hasil Aplikasi Instrumentasi secara jelas telah menunjukkan berbagai data  yang menyangkut kondisi responden, maka akan ditemuka Need Assessment sebagai dasar penyusunan/perencanaan Program Konseling. Dengan data yang lengkap dari Aplikasi Instrumentasi ini dapat dirumuskan Program Konseling secara menyeluruh, untuk setiap kelas, dengan mengacu kepada kebutuhan siswa, baik perorangan maupun kelompok. Pada intinya untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling direncanakan berdasarkan data hasil Need Assessment.

  1. Penetapan Peseta Layanan

Berdasarkan data hasil instrumentasi, Konselor dapat menetapkan individu yang perlu mendapat layanan konseling, baik layanan dengan format klasikal, kelompok maupun individual. Kegiatan dengan format lapangan dan “politik” bagi klien tertentupun dapat direncanakan oleh Konselor dengan mendasarkan pada hasil Aplikasi Instrumentasi ini.

  1. Sebagai Isi Layanan

Data yang terungkap dari penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini dapat pula menjadi isi dari layanan konseling.Hal ini disebabkan karena dalam penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi khususnya yang mengungkap tentang hubungan sosial (sosiogram), inteligensi, bakat dan minat dapat dijadikan sebagai isi layanan  Untuk hal ini diperlukan  kecermatan Konselor dalam melihat relevansi antara hasil Aplikasi Instrumentasi dengan kebutuhan Klien dan menggunakannya secara tepat, dengan senantiasa menerapkan asas kerahasiaan sebagaimana mestinya.

 

 

 

VIDEO LEBARAN

Pada waktu lebaran 2019 saya membuat vieo yang berjudul lebaran saya membuat video ini berdasarkan tugas untuk memenuhi tugas pengantar sistem informatika pada semester genap, saya membuat video di kota kelahiran saya BREBES tempat pembuatan video lebaran ini di rumah orang tua saya yang kebetulan sedang mengadakan halal bihalal keluarga besar.

 

Bimbingan Konseling Islam

Bimbingan Konseling Islam

Pendidikan agama harus diimulai dari rumah tangga, sejak si anak masih kecil. Pendidikan tidak hanya  berarti memberi pelajaran agama kepada anak-anak yang belum lagi mengerti dan dapat menangkap pengertian-pengertian yang abstrak. Akan tetapi yang terpokok adalah penanaman jiwa percaya kepada Tuhan, membiasakan mematuhi dan menjaga nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh ajaran agama.

Dengan demikian, pendidikan Agama Islam berperan membentuk manusia Indonesia yang percaya dan takwa kepada Allah SWT, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-sehari, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

  1. Ajaran Islam Yang Berkaitan Dengan Bimbingan Konseling

Bebicara tentang agama terhadap kehidupan manusia memang cukup menarik, khususnya Agama Islam. Hal ini tidak terlepas dari tugas para Nabi yang membimbing dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga para Nabi sebagai figure konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan permasalahan (problem solving) yang berkaitan dengan jiwa manusia, agar manusia keluar dari tipu daya syaiton. Seperti tertuang dalam ayat berikut ini :

“Demi masa. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, saling menasehati supaya mengikuti kebenaran dan saling menasehati supaya mengamalkan kesabaran”. (Al-Ashr :1-3)

 

  1. Pendekatan Islami Dalam Pelaksanaan Bimbingan Konseling

Pendekatan Islami dapat dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dalam pelaksanaan bimbingan konseling yang meliputi pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan, dan seterusnya yang berkaitan dengan klien dan konselor.

Bagi pribadi muslim yang berpijak pada pondasi tauhid pastilah seorang pekerja keras, namun nilai bekerja baginya adalah untuk melaksanakan tugas suci yang telah Allah berikan dan percayakan kepadanya, ini baginya adalah ibadah. Sehingga pada pelaksanaan bimbingan konseling, pribadi muslim tersebut memiliki ketangguhan pribadi tentunya dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Selalu memiliki Prinsip Landasan dan Prinsip Dasar yaitu hanya beriman kepada Allah SWT.
  2. Memiliki Prinsip Kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
  3. Memiliki Prinsip Kepemimpina, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasulnya.
  4. Selalu memiliki Prinsip Pembelajaran, yaitu berprinsip kepada  Al-Qur’an Al Karim.
  5. Memiliki Prinsip Masa Depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”
  6. Memiliki Prinsip Keteraturan, yaitu beriman kepada “Ketentuan Allah”

 

Pada diri counselee juga ada benih-benih agama, sehingga untuk mengatasi masalah dapat dikaitkan dengan agama, dengan demikian pembimbing dan konselor dapat mengarahkan individu (counselee) kearah agamaya, dalam hal ini Agama Islam.

Selanjutnya ditemukan bahwa agama, terutama Agama Islam mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konselingdan terapi dimana filosopinya didasarkan atas ayat-ayat Alquran dan Sunnah Rosul. Proses pelaksanaan bimbingan, konseling dan psikoterapi dalam Islam, tentunya membawa kepada peningkatan iman, ibadah dan jalan hidup yang di ridai Allah SWT.

 

 

Loading...
X
Skip to toolbar