Beberapa orang tak pernah jadi gila. Betapa mengerikannya hidup yang mereka lalui. -Ethan Carter Wate-

Dua tahun setelah duka menghampirinya. Kali ini musik requiem bergema digendang telinga. Lagi. Terdengar menyayat dan mengalun pilu. Ah… Requiem itu, lagi-lagi ia mendatangkan sendu pada wajahnya. Hingga malaikat maut menari-nari karenanya.

Ada sebuah peti mati berada ditengah ruangan. Sepuluh menit yang lalu telah diisi oleh mayat seorang wanita. Dengingan kematian menyeruak dilepah telinga. Mengguncangkan hati. Dan mendebarkan dada penuh sesak. Gumpalan duka itu, sekali lagi bertahta dihatinya. Mengenaskan. Mata coklat sembab dengan rambut ikal sepunggung, mengenakan gaun hitam berenda. Gadis kecil itu nampak lesu sambil memeluk lututnya disudut ruangan.

Seorang wanita berumur dua puluhan menghampiri dan duduk disampingnya. Mengelus pucuk rambut coklat-nya sementara ia masih terisak. Wanita itu juga berduka. Saudara-nya ditemukan tewas di ruang kerjanya. Padahal, sejam setelah ia mengantar kopi hangat ke ruangannya. Dia tampak baik-baik saja. Apa yang terjadi?

Sosok bayangan mengintip dari jendela yang masih terbuka lebar. Suasana tengah malam membiarkan angin mengelus sekitar. Ia mendesah halus setelah menyelesaikan tulisannya. Ia hendak beranjak dari tempat kerjanya untuk menemui anak-nya yang sepertinya sudah pulas dikamar. Dentingan jam di dinding. Jarum panjangnya menunjuk angka 2. Lagi-lagi ia larut bekerja. Seharusnya jam 11 itu ia sudah kembali ke kamar menepati janji pada sang anak untuk rebahan disebelahnya.

Kriet,

Dia mendengar suara sesuatu yang berasal dari jendela yang masih dibiarkan terbuka. Saat ia hendak mendekat, sosok bayangan terpantul dari lampu diatas meja-nya yang agak meremang. Siapa itu? Napasnya tersengal. Kenapa ada orang yang mengendap-endap di tembok rumahnya?. Lalu dia mengambil pemukul baseball yang ada disebelah lemari buku-nya. Pencuri. Apakah ia harus berteriak? Semua orang sudah terlelap. Dan lagi, si pencuri sudah hampir berada didepannya. Dia akan masuk melalui jendela.

Brak…

Pencuri itu melompat menerjang-nya. Pemukul baseball terpanting kebelakang menimbulkan suara yang cukup keras, ia meronta. Mencoba melepaskan tangan keras si pencuri dari lehernya. Si pencuri menyeringai, ia mengambil sesuatu dari balik saku celana. Belati. Si pencuri menusuk-kan belati tajam itu dengan tangan kanannya.

Napasnya tercekat, rontaan tangan yang mengeras ingin dilepaskan dari lehernya mengendur seketika. Si pencuri masih menyeringai. Dia masih belum puas. Tusukan belati. Ia menusuk terus menusuk dengan belati. Si pencuri itu menyeringai. Dia tertawa melihat mangsanya sudah tak berkutik lagi.

Dari balik pintu yang sedikit terbuka, seseorang melihat aksinya dengan wajah tegang. Dia menangis tertahan sambil menutup mulut agar tidak menimbulkan suara. Tenggorokkannya tercekat, susah payah ia menelan ludah. Si pencuri bermata nyalang terus tertawa melihat percikan darah menciprati wajahnya.

Seseorang. Tolong. Adakah seseorang disini? Ia ingin pergi memberitahu siapapun yang ada dirumah itu. Ah… Bibinya? Atau pembantunya? Tapi tidak, ia membatu ditempat. Menangis menyaksikan kejadian itu. Rasanya ingin mual. Tolong. Siapa saja. Sialan. Kenapa suara ini tidak keluar juga. Sialan, sialan, sialan. Dia melemas ditempat. Sepasang matanya masih tertuju pada si pencuri yang masih berada disana. Si pencuri mengeluarkan buku-buku dari dalam rak-nya, hingga buku-buku itu berantakan. Setelah itu, ia kembali menyeringai buas. Matanya berdalih ke arah pintu. Oh… Tidak. Dia ingin pergi. Dia harus pergi. Si pencuri pasti akan membunuhnya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, tapi seluruh tubuhnya kaku. Dia menangis. Tolong. Siapa saja. Tolong. Si pencuri masih menyeringai ke arahnya. Namun beberapa menit kemudian, si pencuri melengos membelakanginya dan pergi lewat jendela. Setelah itu, ia berteriak. Menangis sekencang-kencangnya.

Di sudut tembok, gadis dan wanita berumur 20 tahunan itu masih berada disana. Wanita itu menenangkan gadis kecil yang masih sesenggukkan. Gadis kecil itu tertawa keras. Kontan membuat para pelayat menoleh dan heran padanya. Anak kecil itu. Apa yang terjadi padanya? Bukankah ia sedang berduka? Orang-orang saling membisiki. Sementara wanita berumur 20 tahunan itu langsung menariknya kedalam pelukan. Menepuk-nepuk punggungnya. Dan si gadis kecil kembali terisak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *